“Kau
butuh pelampiasan, Jar.”
Anjar masih setia duduk diam di daun
jendela kamar. Seperti biasa. Menunggu sore menuju senja. Padahal ini masih jam
tiga. Burung betina saja masih
keluyuran mencari makan untuk dibawakan ke anaknya yang masih tidur pulas di
sangkarnya di atas pohon nangka yang berjarak satu setengah meter di samping
jendela kamar Anjar. Masih lama.
“Jar?” panggil Rana dengan nada lebih
tinggi daripada sebelumnya.
“Eh, ya?” Anjar menoleh ke arah Rana.
“Kau butuh pelampiasan.”
“Menurutmu begitu?”
“Ya, menurutku begitu.”
Anjar kembali memandang jauh ke barat.
“Seperti?”
“Kau suka melukis, kan?”
“Lalu?”
Rana mengambil buku berukuran A3 di
meja belajar Anjar, menimang-nimangnya, lalu menyodorkannya. “Ini, lampiaskan
di buku sketsa ini,” ucapnya, “tumpahkan yang kau rasakan sekarang di sini.
Mungkin itu akan sedikit meringankan bebanmu.”
Anjar hanya bergeming. Lama.
“Aku tunggu hasilnya ya, Jar?” ucap
Rana akhirnya seraya menyisipkan senyum sebelum beranjak ke pintu dan pergi.





