Sungguhpun,
Jika saja hidup
seperti dongeng
Aku ingin
memutar gerigi-gerigi
mesin berangka
ke kiri
Agar waktu
kembali di mana
Aku tidak perlu
lagi pulang
Seperti
sekarang
Mi,
Telah engkau
beri aku nyawa
Dengan peluhmu
Dan tangis haru
yang melukis memenuhi langit-langit
Kaubukakan
jendela
Agar aku
mengenal biru, hijau, anyir, dan getir
Kau awasi aku
yang
Meraba-raba
dinding atau menggoyangkan
Pelepah pisang
beroda buatan Abah
Kau iringi
rangkak
Dengan tangan memeluk kepala
Dan
bahasa-bahasa surga
Tangan berkapal
itu pula
Yang lembut mengusap
Ketika aku meringkuk
ketakutan
Usai memecah piring
dan kaca
Sering kausebut
namaku
Di antara sayur
mayur di pasar
Sedang Abah dengan
binar
Bercerita tentangku
yang nakal
Ketika berkeliling
menjaja koran
Aku telah
tumbuh, Um
Menjadi remaja pencari asing tawa
Melangkah angkuh kaki
Jauh dari ayunan
Dan menolak
gendongan pundak Abah
Aku telah merasa
dewasa
Hingga lupa
dengan wangi
tangan
yang sering mencium
kepala
Ketika kau
rindu
Kukatakan waktu
telah pergi
Kerjaan
menggunung dan tak kunjung usai
Setelah aku
sibuk seduh kopi bersama rekan dan bernyanyi
Sedang pada
malam yang kian bisu
Kau gemetar merapal
mantra
Untuk malaikat
kecil yang hilang
Di perantauan
Namun dinding
rumah dipenuhi jaring laba-laba
Tulang telah
berkalung tanah
Kayu pun telah mengabu
Kini aku pulang
Meski terlambat
Meski tubuh meringkuk melejar
Dan perih menusuk relung menjalar
seluruh akar-akar
Maka mulai
sekarang tidak lagi
Aku akan pergi
Akan kupecah
dan kucurahkan semua isi kepala
Kucakar dada
dan kutumpahkan isinya
Dan akan
kuciumi batu bertulis namamu, Mi!
Hingga pula aku
menyusul
Kembali tidur
di pangkuanmu
Kita akan
banyak menghabiskan waktu bersama
Sembari
menunggu bumi dan langit bercinta
Ah, Ummi
Andai saja
hidup seperti buku yang pernah kau dongengkan
Ingin aku terbang
ke halaman-halaman lama
Di mana kau
tahan aku terlampau jauh berlari
Hingga aku tak
perlu lagi pulang
Seperti
sekarang
©Sandékala,
Semarang, 30092015
Ilustrasi: Sketsa Memeluk Kematian - Fakhri Cahyono






