![]() |
Sumber gambar: google.co.id
|
Kaulihat bapak itu? Bapak tua itu
selalu ceria. Namun tidak dengan anak perempuan satu-satunya. Ia cantik, namun
sayang terlalu banyak marah-marah kepada siapa pun, termasuk kepada bapaknya.
Meski begitu, meski Putri Cantiknya marah-marah, si bapak tetap ceria di depan
putrinya.
Ia memang
memanggil putrinya dengan Putri, atau terkadang ditambah Cantik. Putrinya mulai
sering marah-marah tiga belas bulan lalu, ketika ... sebentar, ada suara piring
pecah.
“Masakan apa
ini?! Bapak mau meracuni aku, ya?!”
“Masakannya
kenapa, Putri? Tidak enak ya? Maafkan Bapak.” Bapak dengan rambut yang mulai
seputih awan itu merunduk, merapikan pecahan beling dari piring yang dilempar
putrinya. “Kamu tahu sendiri Bapak kesusahan memasak nasi goreng kesukaanmu
dengan tangan—“
“Sudahlah! Aku
makan di luar saja.” Si Putri beranjak dari kursi, berjalan ke arah pintu, lalu
menghilang setelah bunyi debam.
-o-
Gadis itu sejak
tadi bersimpuh di sana, di bawah pohon jambu. Menangis dengan sesekali meninju
tanah. Tangannya sudah merah. Ia sedih, pun marah. Percayalah, gadis itu
terlihat begitu menyedihkan.
“Bu ... aku
rindu.”
Entah sudah
berapa kali ia merapalkan kalimat itu. Pandangannya begitu berat, matanya
sembab. Barangkali air matanya sudah mulai habis. Terlihat betapa ia begitu
mencintai ibunya. Namun ibunya diam.
“Bu, aku benci
Bapak,” kata Putri, masih dengan menangis.
Ibunya
bergeming.
“Bu, Bu, kapan
Ibu masak nasi goreng buatku lagi? Aku rindu nasi goreng buatan Ibu. Buatan
Bapak tidak enak.” Kali ini ia memeluk kepala ibunya yang di jidatnya
bertuliskan namanya sendiri, yang sudah berubah menjadi batu.
“Bu, apa aku
ikut dengan Ibu saja? Tapi aku takut, sangat takut—“
-o-
Bapak tua
berdiam di belakang pintu. Sesekali matanya melirik jam dinding. Sesekali ia
menyingkap gorden, dengan cemas. Di luar, langit mulai gelap.
Ia beranjak ke
kursi ruang tamu, duduk, meminum air putih. Sudah empat gelas ini ia minum.
Namun putrinya belum juga pulang. Biasanya, putrinya sudah di rumah tiga puluh
menit dari usai jam sekolah. Meski setelahnya Putri akan pergi lagi dengan
temannya. Namun sekarang suara adzan sudah terdengar, dan Putri belum pulang
sama sekali.
Ia terbengong
memperhatikan lilin pada kue tart di atas meja ruang tamu. Lilin hampir habis.
Ia sangat cemas.
Ah, barangkali
ia langsung ke rumah Syerna, pikirnya. Syerna adalah teman baik Putri. Jadi, ia
mencoba menghubungi Syerna. Namun ia mulai panik lagi, nomor Syerna tidak
aktif. Ia langsung kembali beranjak ke jendela, membuka gorden, ketika
mendengar suara motor. Namun ternyata hanya orang lewat.
Barangkali, ia
sedang mengerjakan tugas di sekolahnya. Baru saja si bapak berpikir demikian,
terdengar suara motor berhenti, lalu tidak berapa lama pintu terbuka.
Dengan sigap
dan muka ceria, si bapak mengambil kue yang sudah dipersiapkannya dan menghampiri
putrinya.
“Putri Cantik,
sini, Nak. Mari merayakan ulang tahun ibumu.”
Putri menoleh
cepat ke bapaknya, dengan tatapan tajam.
“Kenapa?”
tanyanya, “Kenapa Bapak merayakan ulang tahun Ibu?”
“Bukankah kamu
begitu mencintai Ibumu, Putri?” Si Bapak tampak bingung.
“Iya,” jawab
Putri cepat. “Aku cinta sama Ibu. Tapi Ibu sudah mati!” Mata Putri mulai
berair. “Ibu mati karena Bapak! Dan Bapak tidak usah sok mau merayakan ulang
tahun Ibu!” Putri menampik kue tart yang disodorkan bapaknya hingga terpelanting
dan jatuh ke lantai. Kue rusak. Berantakan. Barangkali sama berantakannya
dengan hati bapaknya. Dengan raut muka si bapak yang mulai sedih.
Ya, aku juga
baru melihatnya, bapak itu baru terlihat sedih sekarang. Kau juga pasti paham,
kan?
Putri hendak
keluar rumah lagi. Si bapak mencegah—memegang tangan Putri, menariknya, lalu
menutup pintu. “Maafkan Bapak, Putri. Maafkan Bapak. Kematian Ibumu itu—“
“Kalau saja
Bapak mau menuruti kata Ibu buat tidak berangkat kerja hari itu, kalau saja Ibu
tidak menyusul Bapak, harusnya Ibu tidak mati. Harusnya Bapak saja yang
tertimpa dinding yang roboh di proyek, bukan Ibu juga!” potong Putri seraya
menangis tersedu.
Si Bapak
bergeming, sedikit terhuyung, menunduk, diam.
Kini si bapak
mulai menangis. Ditatapnya tangan kirinya yang sudah diganti dengan tangan anak
kecil karena tangan aslinya hancur tertimpa dinding yang roboh. Tangan itu ia
mainkan di udara. Benar, andai saja kuturuti kata istriku untuk tidak bekerja,
sehari itu saja, tanganku tak akan begini, dan bahkan istriku tak akan mati,
pikirnya, bukankah intuisi istriku jarang salah? Kini si bapak terduduk dan
ikut menangis sesenggukan.
Dengan kuat,
Putri dorong bapaknya ke sisi lain pintu, lalu Putri berlari pergi. Si bapak
mengejar Putri. Putri terus berlari di jalan raya dengan matanya yang dipenuhi
air mata. Si bapak melihat motor yang melaju kencang dari arah samping Putri.
Si bapak menambah laju lari, namun kaki kanannya sudah tidak berfungsi normal.
Si bapak berteriak. Namun terlambat. Motor menghantam Putri. Putri terpelanting
dan kepalanya membentur trotoar.
-o-
Cahaya masuk
dari jendela dan membelai muka Putri. Putri membuka mata, tapi mata sebelahnya
kabur. “Aku di ...,“ ia mengitarkan pandangan, “rumah sakit? Dan kenapa sebelah
mataku buram?”
“Syukurlah kau
sudah sadar. Matamu baru dioperasi. Diganti mata baru. Jadi belum berfungsi
normal. Sabarlah,” jawab dokter yang sedang mendata perkembangan Putri.
“Diganti?”
Putri mulai mengitarkan pandangan dan mendapati Bapaknya terbaring di ranjang di
sampingnya, memandangnya dengan satu mata—sebelah matanya diperban—dan dengan
senyum seperti biasa.
“Bapak?” Mata
baru Putri mulai berair, bersama mata lamanya. Air itu makin lama semakin
deras. Putri menghampiri bapaknya dan memeluknya.
Dengan lembut si
bapak membelai rambut Putri. “Tidak apa-apa, Putri. Tidak apa-apa.” Si bapak
melepaskan pelukan Putri, menyeka air mata putrinya. “Bapak sayang sekali sama
Ibu, juga sama Putri.”
“Maafkan Putri,
Pak, maafkan.”
“Tidak
apa-apa,” jawab si bapak seraya menarik pundak Putri untuk kembali memeluknya.
“Bapak boleh minta sesuatu?”
“Apa?”
“Sesekali,
berdamailah dengan kenangan, putriku yang cantik. Berdamailah dengan bapakmu
yang sudah mulai keriput ini. Bapakmu juga butuh kasih sayangmu.”
Putri hanya
menangis. Namun si bapak bisa merasakan anggukan Putri dari dagu putrinya yang
menekan pundaknya beberapa kali.
Angin malam
berdesir dingin. Pelukan mengerat.
-o-
14012016, terinspirasi dari salah satu cuplikan iklan dari Thailand.





