Kamis, 08 Oktober 2015

Minggu Kedelapan Belas

Aku membenci apapun yang orang-orang katakan kepada ibuku. Kalau saja aku tidak dihalangi dinding ini, sudah kuhajar orang-orang itu.

Orang-orang sering menyebut ibuku dengan sebutan yang tidak aku mengerti. Yang pasti, setelah sebutan itu terucap dengan nada tinggi, disusul beberapa suara keras lain, terdengar ibu menangis. Ah, ibu pasti kesakitan. 

Di sini, aku tidak mempunyai teman kecuali dinding yang mengurungku, yang terkadang aku ajak bicara. Namun ia sering terasa menjengkelkan. Ia hampir sama dengan orang-orang di luar, terkadang menyebut ibuku sama dengan yang mereka sebut. Aku terpaksa mengajaknya mengobrol jika aku kesepian, dan ibu sedang tidak bernyanyi untukku.

Ibuku sangat sayang padaku. Tidak hanya sering ibu kecapaian setelah bekerja, namun tetap memberiku susu dan terkadang bernyanyi untukku. Semua ia lakukan demi aku. Aku tahu itu, karena aku mendengarnya. Letih semacam ini bukanlah apa-apa, yang penting nanti kau bisa tumbuh dengan baik, katanya seraya mengelusku. Meski aku tidak merasakan lembut tangannya.

Minggu kedelapan belas, sekarang. Dan sepertinya hari sudah malam.

Engahan itu kudengar lagi. Ibu pasti sedang bekerja. Tapi ada yang berbeda, ibu terdengar lebih termengah-mengah daripada biasanya. Setelahnya teriakan itu kembali muncul. Sepertinya ibu bertengkar dengan teman kerjanya. Dan ibu kembali menangis.

Aku marah. Aku tendang berkali-kali dinding yang mengurungku. Aku ingin keluar dan menghajar orang itu. Namun ibu terdengar semakin kesakitan. Jadi aku berhenti dan membiarkan ibu menangis. Di saat seperti itu aku sedih dan merasa tidak berguna. Namun aku tidak bisa melakukan apa-apa.

“Bukankah sudah kukatakan, jangan menendangku?!” teriak si dinding.

“Tapi aku ingin keluar,” kataku.

“Tidakkah kau dengar ibumu kesakitan? Tendanganmu keras, aku juga kesakitan!”

“Aku tidak peduli padamu.”

“Kau harus peduli padaku, karena aku milik ibumu.”

“Aku juga milik ibuku, aku anaknya! Dan aku ingin keluar untuk menolongnya!” kataku setengah berteriak.

“Kau anak yang tidak diharapkannya. Dan percuma saja kalau kau keluar sekarang. Bahkan kau tak punya tangan.”

“Diam kau, atau kau akan kupukul dan kucakar.” Aku menyuruhnya diam dan mengancamnya, tapi ia malah menertawakanku. Begitu menjengkelkan. Aku benci dia. Tapi dia benar. Aku tidak punya tangan, dan percuma saja jika aku keluar. Aku belum punya cukup kekuatan untuk menghajar seseorang. Jangankan menghajar seseorang, jika aku memaksa keluar, mungkin aku tidak bisa berjalan.

Ibu masih menangis. Tangisnya semakin kencang setelah suara-suara keras kembali terdengar bersama sebutan itu. Aku diam. Orang yang bertengkar dengan ibu terdengar melangkah menjauh, pergi, lalu berteriak:

“Dasar pelacur! Lebih baik kau mati saja!”

Sebutan ketiga hari ini. Kali ini aku tidak bisa diam. Aku geram. Persetan dengan omongan si dinding barusan, akan kukejar dan kuhajar orang itu karena membuat ibu menangis sekeras sekarang.

Kembali aku tendangi dinding. Dinding meringis, ibu masih menangis.

“Diamlah … sakit ….” Ibu berkata dengan lemah. Pilu mendesah.

Aku menendang semakin keras. Ibu semakin menangis. Aku tergemap. Ibu marah padaku. Baru sekali ini, ibu berteriak padaku. Aku sedih. Tapi aku tetap menendangi dinding.

“Diamlah, dasar anak haram!” teriaknya.

Aku tidak tahu apa arti kata itu. Tapi ibu berteriak padaku. Itu berarti ibu marah padaku. Aku mulai menangis.

“Tak kuat lagi … ma … ti … maa … ti ….”

Ibu meminum sesuatu. Benar, kan? Apa yang kubilang, ibu sayang padaku. Baru saja aku menangis, ibu memberiku susu. aku berdiri lalu menengok kerongkongan ibu. Aku mengernyit, itu bukan susu.

Bentuknya seperti tabung. Lalu ketika sampai di sini, tabung itu pecah, mengeluarkan butiran-butiran. Butiran itu mengerikan. Ketika mengenai kakiku, kakiku berlubang. Aku kesakitan. Butiran itu terus mengenaiku. Aku merengek meminta maaf kepada ibu, tapi ibu malah kembali meminum tabung lain. Butirannya kini mengenai mataku, dadaku, kepalaku. Seluruh badanku berlubang. Aku menangis. Aku sangat kesakitan. Aku meminta berhenti tapi ibu tidak mendengarkan.

Ibu jahat. Ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Aku benci ibu.

-fin-

©Fakhri Cahyono, Semarang, 10082015.

Read More