Minggu, 23 November 2014

Syukurlah


“ANAKKU, bangunlah anakku!”

Lihatlah dirimu, Ma! Untuk apa kau menangis sesenggukan begitu? Kau sendiri sangat tahu bahwa tangismu takkan bisa mengubah garis hijau lurus yang terpampang kaku pada layar hitam di sebelahmu.

Tidakkah kau lihat? Pria di sebelahmu saja sampai lelah mengelus-elus pundakmu. Perhatian? Bukan! Lihatlah bibirnya yang cemberut, lihatlah raut tidak ikhlasnya ketika menyuruhmu bersabar tadi. Ah, percuma. Bukankah kau sudah buta karenanya? Dan karena itu pula ini semua terjadi bukan? Lalu kenapa seolah kau menyesal seperti sekarang?

“Dok, tolong! Bangunkan anakku, Dok, tolong ....”

Muak rasanya melihatmu, Mama. Kau banyak berubah setelah mengenal pria berwajah topeng di sebelahmu itu. Sampai kapan kau akan terus berbohong? Menyayangi Papa sampai kapan pun dan takkan menggantinya? Haha, jangan bercanda! Kau telah menodai kesetian Papa dengan selingkuh pada pria yang sama memuakkannya denganmu. Lalu apakah kau tak lelah berbohong dengan menangis seperti sekarang?

Kau mungkin tak tahu, Ma. Anakmu sungguh bersyukur hari ini. Setidaknya dengan tak lagi melekatnya nyawa pada tubuh yang terbujur kaku itu, anakmu tak perlu melihat kebohonganmu lagi.

Bali, 231114 23:33 WITA. FF 169 kata. #FFOrangKedua


Read More

Senin, 10 November 2014

Hujan 21 November


       Sebuah sore di Jakarta. Rona jingga menyemburat indah dari langit barat, menyentuh lembut atap-atap gedung yang berdiri angkuh di segala penjuru ibu kota. Meski langit sudah berubah warna, debu masih saja jalan-jalan di sana-sini, tak ada habisnya. Di sebuah rumah, di sebuah kamar, Cinta sedang berbaring di bed, tiduran. Ia asik senyum-senyum sendiri sejak satu jam yang lalu. Mukanya cerah, sama cantiknya dengan senja di atas sana. Ia tampak begitu bahagia. Di sampingnya tergeletak sebuah amplop putih bertuliskan: To Cinta...
       Cinta tak bisa diam, beberapa kali ia mengubah posisi baringnya, memeluk erat gulingnya. Senyumnya tak kunjung reda, masih setia mematung di wajahnya yang merona. Dibacanya lagi kertas yang sejak sebelum senyumnya tumbuh itu ia genggam. Ia tersenyum lagi, lebih lebar kali ini.

          Untuk Cinta,
Read More