“ANAKKU, bangunlah
anakku!”
Lihatlah dirimu,
Ma! Untuk apa kau menangis sesenggukan begitu? Kau sendiri sangat tahu bahwa
tangismu takkan bisa mengubah garis hijau lurus yang terpampang kaku pada layar
hitam di sebelahmu.
Tidakkah kau
lihat? Pria di sebelahmu saja sampai lelah mengelus-elus pundakmu. Perhatian? Bukan!
Lihatlah bibirnya yang cemberut, lihatlah raut tidak ikhlasnya ketika
menyuruhmu bersabar tadi. Ah, percuma. Bukankah kau sudah buta karenanya? Dan
karena itu pula ini semua terjadi bukan? Lalu kenapa seolah kau menyesal
seperti sekarang?
“Dok, tolong!
Bangunkan anakku, Dok, tolong ....”
Muak rasanya
melihatmu, Mama. Kau banyak berubah setelah mengenal pria berwajah topeng di
sebelahmu itu. Sampai kapan kau akan terus berbohong? Menyayangi Papa sampai
kapan pun dan takkan menggantinya? Haha, jangan bercanda! Kau telah menodai
kesetian Papa dengan selingkuh pada pria yang sama memuakkannya denganmu. Lalu apakah
kau tak lelah berbohong dengan menangis seperti sekarang?
Kau mungkin tak
tahu, Ma. Anakmu sungguh bersyukur hari ini. Setidaknya dengan tak lagi melekatnya nyawa pada tubuh yang terbujur kaku itu, anakmu tak perlu melihat
kebohonganmu lagi.
Bali, 231114 23:33 WITA. FF 169 kata. #FFOrangKedua






