Sabtu, 28 November 2015

Manusia-manusia Tak Bermuka

Pagi tadi saya mendapat foto dari teman tentang makhluk yang berbondong datang ke kebun bunga amaryllis untuk sekadar ber-selfie ria dengan bunga tersebut. Tidak peduli bunga yang hancur mereka injak atau tertindih tubuh mereka. Tidak peduli bahwa bunga itu butuh waktu lama untuk punya kesempatan menghirup udara, setahun sekali! Ahelah, yang penting bisa pamer dan mejeng di jejaring sosial, tho
            
Saya jadi teringat sekitaran setahun lalu—kalau saya tidak salah ingat—tentang (yang katanya) pecinta alam yang mencabut bunga edelweiss di gunung. Dengan santai mereka mencabut dengan beralasan bahwa bunga edelweiss adalah lambang kegigihan. Hingga dengan bangga mereka bawa pulang dan mereka berikan kepada kekasih sebagai bukti cinta ke-bullshit-an mereka.
            
Lalu sekitar sebulan lalu, tersebar foto yang dengan enteng memerlihatkan hasil buruannya (yang katanya hasil membeli), kucing hutan (felis bengalensis) yang termasuk satwa dilindungi.
            
Sering juga saya mendapati foto di tempat bagus atau momen bagus dari satu orang yang disebar ke jejaring sosial. Harusnya tempat atau momen itu berharga baginya atau bagi beberapa orang. Namun tidak lagi karena ulahnya yang tak sabar untuk eksis, hits. Tempat atau momen itu dalam sekejap digandrungi banyak manusia. Tidak lagi menjadi sesuatu yang spesial. Dan parahnya tempat yang awalnya bagus menjadi rusak, banyak sampah, banyak coretan njijiki, dan semacamnya.

Setelah berpuas-puas menyesap manis, mereka membuang sepah begitu saja. Setelah berpuas mendapat keindahan dan foto yang dibutuhkan untuk eksistensi mereka tanpa peduli akan kerusakan yang ditimbulkan, mereka mengunggahnya ke dunia maya seperti tanpa dosa dengan caption pecinta alam, penyayang ini, penyuka itu tanpa sadar diri.
            
Manusia seakan tidak pernah punya rasa puas untuk merusak demi memperindah diri sendiri. Kekininan yang dilakoni masih kurang kekinian. Segala yang dipunya masih kurang cukup, dirauklah dari yang lain; dari orang, dari alam, dari mana saja yang mereka kehendaki. Tidak pernah sadar bahwa mereka sudah lahir dengan cukup indah tanpa harus mengambil yang bukan haknya.
           
Tolonglah untuk menghargai kehidupan. Ulat dan cacing bahkan kerikil tidaklah diciptakan Tuhan melainkan untuk bermanfaat bagi yang lain. Tidak ada yang diciptakan secara sia-sia. Jadilah manusia seutuhnya. Manusia yang mempunyai muka. Cukuplah beberapa keindahan yang memang perlu dilindungi untuk dijaga dan tidak dieskpos ke khalayak manusia lain, karena manusia memang lebih banyak merusak daripada merawat. Toh, bukankah manusia banyak yang pelit? Maka pelitlah untuk keindahan semacam ini. Biar jadi cerita sendiri, biar dinikmati sendiri, biar punya kenangan indah yang bisa disuap tiap pagi selain kenangan tentang mantan.

Barangkali, jika mereka sudah sadar dengan keindahan diri mereka, mereka akan merusak tubuh mereka sendiri hanya untuk diajak selfie bersama dan diunggah ke dunia maya.
Read More