Selasa, 25 Oktober 2016

Manakala Ada Kamu

Sumber gambar: Pinterest
Di tengah ingar sepi menjalar
manakala ada kamu
tidak kudengar di kepala jerit-teriakan itu

di tengah keributan tenang mengakar
manakala ada kamu
kita seperti api yang meluap-luap di atas tungku

DJ memainkan musik kamu mengusik
para penari memainkan peran kamu bikin kepikiran

Manakala ada kamu
meski berjarak satu sepuluh seratus ribu
manakala ada
manakala
mana?

Siapa kamu berani
mengaduk irama di dada dan mengacaukannya?
lancang sekali kau, Aya!

Sebab di antara cawan di atas meja
ada bibirmu yang lebih candu
sebab di antara lantunan musik diskotik
ada bisikmu yang lebih benalu

Manakala ada kamu
meski berjarak satu sepuluh seratus ribu
manakala ada
manakala
mana?

Siapa kamu berani
mengendap-endap dalam kepala dan mencuri dua mataku?

©Sandékala, Semarang, 25102016
Read More

Jumat, 06 Mei 2016

Kita Tidak Saling Memiliki

Kau tak akan bisa memaksaku
melakukan hal-hal dari bibirmu
Seperti melarang minum kopi
di pertengahan dini hari
Atau melepas kaos kaki
sebelum ku dijemput mimpi

Jangan harap berlebihan
Biarpun hatiku kaujambret dan kautawan

Begitu pula aku yang tak bisa memaksamu
melakukan inginku
Sepantun menari di tengah hujan
dan (meskipun kutahu) kau akan kedinginan
Atau memakan sambal bawang kesukaan
dan (karena sakitmu) kau akan merintih kesakitan

Jangan harap berlebihan
Kita hanya orang-orang yang sama kesepian
Terdampar-lejar dan berangan dijuluri tangan oleh bayang

Kau dan aku sama tahu
bahwa rindu hanya ada bagi mereka yang dungu
Aku dan kau sama mengerti
bahwa ucap cinta tak lebih dari sekadar janji-janji

Jangan berharap lebih
Kau dan aku tidak saling memiliki
Aku bukan milikmu
Kau bukan milikku
Yang nyata,
Segala apa aku dan kamu adalah milik kita.
x
Read More

Selasa, 19 April 2016

Fall

Not because of the immense skies,
because he is full of lies.
       Nor dew after the rain,
       because she kept the pain.
   And neither wind's flutter,
   because there all loneliness gather

Bu to be honest of your eyes I fall,
in love—a light
at first sight
Read More

Kamis, 14 Januari 2016

AIR MATA PUTRI YANG TERSANGKUT DI MATA BAPAK



Sumber gambar: google.co.id

Kaulihat bapak itu? Bapak tua itu selalu ceria. Namun tidak dengan anak perempuan satu-satunya. Ia cantik, namun sayang terlalu banyak marah-marah kepada siapa pun, termasuk kepada bapaknya. Meski begitu, meski Putri Cantiknya marah-marah, si bapak tetap ceria di depan putrinya.

            Ia memang memanggil putrinya dengan Putri, atau terkadang ditambah Cantik. Putrinya mulai sering marah-marah tiga belas bulan lalu, ketika ... sebentar, ada suara piring pecah.

            “Masakan apa ini?! Bapak mau meracuni aku, ya?!”

            “Masakannya kenapa, Putri? Tidak enak ya? Maafkan Bapak.” Bapak dengan rambut yang mulai seputih awan itu merunduk, merapikan pecahan beling dari piring yang dilempar putrinya. “Kamu tahu sendiri Bapak kesusahan memasak nasi goreng kesukaanmu dengan tangan—“

            “Sudahlah! Aku makan di luar saja.” Si Putri beranjak dari kursi, berjalan ke arah pintu, lalu menghilang setelah bunyi debam.

-o-

            Gadis itu sejak tadi bersimpuh di sana, di bawah pohon jambu. Menangis dengan sesekali meninju tanah. Tangannya sudah merah. Ia sedih, pun marah. Percayalah, gadis itu terlihat begitu menyedihkan.

            “Bu ... aku rindu.”

            Entah sudah berapa kali ia merapalkan kalimat itu. Pandangannya begitu berat, matanya sembab. Barangkali air matanya sudah mulai habis. Terlihat betapa ia begitu mencintai ibunya. Namun ibunya diam.

            “Bu, aku benci Bapak,” kata Putri, masih dengan menangis.

            Ibunya bergeming.

            “Bu, Bu, kapan Ibu masak nasi goreng buatku lagi? Aku rindu nasi goreng buatan Ibu. Buatan Bapak tidak enak.” Kali ini ia memeluk kepala ibunya yang di jidatnya bertuliskan namanya sendiri, yang sudah berubah menjadi batu.

            “Bu, apa aku ikut dengan Ibu saja? Tapi aku takut, sangat takut—“

-o-

            Bapak tua berdiam di belakang pintu. Sesekali matanya melirik jam dinding. Sesekali ia menyingkap gorden, dengan cemas. Di luar, langit mulai gelap.

            Ia beranjak ke kursi ruang tamu, duduk, meminum air putih. Sudah empat gelas ini ia minum. Namun putrinya belum juga pulang. Biasanya, putrinya sudah di rumah tiga puluh menit dari usai jam sekolah. Meski setelahnya Putri akan pergi lagi dengan temannya. Namun sekarang suara adzan sudah terdengar, dan Putri belum pulang sama sekali.

            Ia terbengong memperhatikan lilin pada kue tart di atas meja ruang tamu. Lilin hampir habis. Ia sangat cemas.

            Ah, barangkali ia langsung ke rumah Syerna, pikirnya. Syerna adalah teman baik Putri. Jadi, ia mencoba menghubungi Syerna. Namun ia mulai panik lagi, nomor Syerna tidak aktif. Ia langsung kembali beranjak ke jendela, membuka gorden, ketika mendengar suara motor. Namun ternyata hanya orang lewat.

            Barangkali, ia sedang mengerjakan tugas di sekolahnya. Baru saja si bapak berpikir demikian, terdengar suara motor berhenti, lalu tidak berapa lama pintu terbuka.

            Dengan sigap dan muka ceria, si bapak mengambil kue yang sudah dipersiapkannya dan menghampiri putrinya.

            “Putri Cantik, sini, Nak. Mari merayakan ulang tahun ibumu.”

            Putri menoleh cepat ke bapaknya, dengan tatapan tajam.

            “Kenapa?” tanyanya, “Kenapa Bapak merayakan ulang tahun Ibu?”

            “Bukankah kamu begitu mencintai Ibumu, Putri?” Si Bapak tampak bingung.

            “Iya,” jawab Putri cepat. “Aku cinta sama Ibu. Tapi Ibu sudah mati!” Mata Putri mulai berair. “Ibu mati karena Bapak! Dan Bapak tidak usah sok mau merayakan ulang tahun Ibu!” Putri menampik kue tart yang disodorkan bapaknya hingga terpelanting dan jatuh ke lantai. Kue rusak. Berantakan. Barangkali sama berantakannya dengan hati bapaknya. Dengan raut muka si bapak yang mulai sedih.

            Ya, aku juga baru melihatnya, bapak itu baru terlihat sedih sekarang. Kau juga pasti paham, kan?

            Putri hendak keluar rumah lagi. Si bapak mencegah—memegang tangan Putri, menariknya, lalu menutup pintu. “Maafkan Bapak, Putri. Maafkan Bapak. Kematian Ibumu itu—“

            “Kalau saja Bapak mau menuruti kata Ibu buat tidak berangkat kerja hari itu, kalau saja Ibu tidak menyusul Bapak, harusnya Ibu tidak mati. Harusnya Bapak saja yang tertimpa dinding yang roboh di proyek, bukan Ibu juga!” potong Putri seraya menangis tersedu.

            Si Bapak bergeming, sedikit terhuyung, menunduk, diam.

            Kini si bapak mulai menangis. Ditatapnya tangan kirinya yang sudah diganti dengan tangan anak kecil karena tangan aslinya hancur tertimpa dinding yang roboh. Tangan itu ia mainkan di udara. Benar, andai saja kuturuti kata istriku untuk tidak bekerja, sehari itu saja, tanganku tak akan begini, dan bahkan istriku tak akan mati, pikirnya, bukankah intuisi istriku jarang salah? Kini si bapak terduduk dan ikut menangis sesenggukan.

            Dengan kuat, Putri dorong bapaknya ke sisi lain pintu, lalu Putri berlari pergi. Si bapak mengejar Putri. Putri terus berlari di jalan raya dengan matanya yang dipenuhi air mata. Si bapak melihat motor yang melaju kencang dari arah samping Putri. Si bapak menambah laju lari, namun kaki kanannya sudah tidak berfungsi normal. Si bapak berteriak. Namun terlambat. Motor menghantam Putri. Putri terpelanting dan kepalanya membentur trotoar.

-o-

            Cahaya masuk dari jendela dan membelai muka Putri. Putri membuka mata, tapi mata sebelahnya kabur. “Aku di ...,“ ia mengitarkan pandangan, “rumah sakit? Dan kenapa sebelah mataku buram?”

            “Syukurlah kau sudah sadar. Matamu baru dioperasi. Diganti mata baru. Jadi belum berfungsi normal. Sabarlah,” jawab dokter yang sedang mendata perkembangan Putri.

            “Diganti?” Putri mulai mengitarkan pandangan dan mendapati Bapaknya terbaring di ranjang di sampingnya, memandangnya dengan satu mata—sebelah matanya diperban—dan dengan senyum seperti biasa.

            “Bapak?” Mata baru Putri mulai berair, bersama mata lamanya. Air itu makin lama semakin deras. Putri menghampiri bapaknya dan memeluknya.

            Dengan lembut si bapak membelai rambut Putri. “Tidak apa-apa, Putri. Tidak apa-apa.” Si bapak melepaskan pelukan Putri, menyeka air mata putrinya. “Bapak sayang sekali sama Ibu, juga sama Putri.”

            “Maafkan Putri, Pak, maafkan.”

            “Tidak apa-apa,” jawab si bapak seraya menarik pundak Putri untuk kembali memeluknya. “Bapak boleh minta sesuatu?”

            “Apa?”

            “Sesekali, berdamailah dengan kenangan, putriku yang cantik. Berdamailah dengan bapakmu yang sudah mulai keriput ini. Bapakmu juga butuh kasih sayangmu.”

            Putri hanya menangis. Namun si bapak bisa merasakan anggukan Putri dari dagu putrinya yang menekan pundaknya beberapa kali.

            Angin malam berdesir dingin. Pelukan mengerat.

-o-

14012016, terinspirasi dari salah satu cuplikan iklan dari Thailand. 
Read More