ELFRIDA
AUDELIA masih saja sibuk menyeka hujan yang mengalir di pipinya dengan tangan
kiri. Tidak peduli lagi sampai kapan hujan itu akan turun, ia memutuskan untuk
menghabiskan harinya di tempat itu, duduk di salah satu dari dua kursi bundar
yang terbuat dari kayu, tempat favoritnya bersama ibu.
Tinggal kisah yang tergores dan terucap di
akalku ...
Tangan
kanan gadis itu gemetar menarikan pena di buku diary hijau miliknya.
Sepertinya tenaganya terkuras habis untuk menangis. Lia tak kuasa lagi menahan isaknya.
Setitik air mata berhasil luput dari sekaan tangan kirinya, jatuh di permukaan
buku di samping mata pena, memburamkan sedikit tinta yang sudah membariskan
kata.
Langit
memekat, mendung. Gerimis mulai turun.






