Senin, 22 Desember 2014
ELFRIDA
AUDELIA masih saja sibuk menyeka hujan yang mengalir di pipinya dengan tangan
kiri. Tidak peduli lagi sampai kapan hujan itu akan turun, ia memutuskan untuk
menghabiskan harinya di tempat itu, duduk di salah satu dari dua kursi bundar
yang terbuat dari kayu, tempat favoritnya bersama ibu.
Tinggal kisah yang tergores dan terucap di
akalku ...
Tangan
kanan gadis itu gemetar menarikan pena di buku diary hijau miliknya.
Sepertinya tenaganya terkuras habis untuk menangis. Lia tak kuasa lagi menahan isaknya.
Setitik air mata berhasil luput dari sekaan tangan kirinya, jatuh di permukaan
buku di samping mata pena, memburamkan sedikit tinta yang sudah membariskan
kata.
Langit
memekat, mendung. Gerimis mulai turun.
Senin, 15 Desember 2014
Minggu, 23 November 2014
Syukurlah
“ANAKKU, bangunlah
anakku!”
Lihatlah dirimu,
Ma! Untuk apa kau menangis sesenggukan begitu? Kau sendiri sangat tahu bahwa
tangismu takkan bisa mengubah garis hijau lurus yang terpampang kaku pada layar
hitam di sebelahmu.
Tidakkah kau
lihat? Pria di sebelahmu saja sampai lelah mengelus-elus pundakmu. Perhatian? Bukan!
Lihatlah bibirnya yang cemberut, lihatlah raut tidak ikhlasnya ketika
menyuruhmu bersabar tadi. Ah, percuma. Bukankah kau sudah buta karenanya? Dan
karena itu pula ini semua terjadi bukan? Lalu kenapa seolah kau menyesal
seperti sekarang?
“Dok, tolong!
Bangunkan anakku, Dok, tolong ....”
Muak rasanya
melihatmu, Mama. Kau banyak berubah setelah mengenal pria berwajah topeng di
sebelahmu itu. Sampai kapan kau akan terus berbohong? Menyayangi Papa sampai
kapan pun dan takkan menggantinya? Haha, jangan bercanda! Kau telah menodai
kesetian Papa dengan selingkuh pada pria yang sama memuakkannya denganmu. Lalu apakah
kau tak lelah berbohong dengan menangis seperti sekarang?
Kau mungkin tak
tahu, Ma. Anakmu sungguh bersyukur hari ini. Setidaknya dengan tak lagi melekatnya nyawa pada tubuh yang terbujur kaku itu, anakmu tak perlu melihat
kebohonganmu lagi.
Bali, 231114 23:33 WITA. FF 169 kata. #FFOrangKedua
Senin, 10 November 2014
Hujan 21 November
Sebuah sore di Jakarta. Rona jingga
menyemburat indah dari langit barat, menyentuh lembut atap-atap gedung yang
berdiri angkuh di segala penjuru ibu kota. Meski langit sudah berubah warna,
debu masih saja jalan-jalan di sana-sini, tak ada habisnya. Di sebuah rumah, di
sebuah kamar, Cinta sedang berbaring di bed,
tiduran. Ia asik senyum-senyum sendiri sejak satu jam yang lalu. Mukanya cerah,
sama cantiknya dengan senja di atas sana. Ia tampak begitu bahagia. Di sampingnya
tergeletak sebuah amplop putih bertuliskan: To Cinta...
Cinta tak bisa diam, beberapa kali
ia mengubah posisi baringnya, memeluk erat gulingnya. Senyumnya tak kunjung
reda, masih setia mematung di wajahnya yang merona. Dibacanya lagi kertas yang sejak
sebelum senyumnya tumbuh itu ia genggam. Ia tersenyum lagi, lebih lebar kali
ini.
Untuk
Cinta,
Sabtu, 18 Oktober 2014
Short Film Synopsis: Mengaku Anti Korupsi?
Semakin
ke sini semakin banyak yang membicarakan tentang korupsi. Dari pemerintahan
yang berkoar-koar anti korupsi, namun entah, nyatanya banyak berita kasus penyelundupan
dana dari dalam pemerintahan itu sendiri, lalu banyaknya mahasiswa yang
meninggalkan kelasnya untuk turun ke jalan, demo anti korupsi, lalu digiring
keamanan karena demo dengan anarki. Lalu siapa yang pantas disebut korupsi? Siapa
yang patut disalahkan?
Dina,
anak kuliahan biasa yang sedikit nakal, menjadi berubah setelah
bertemu dengan salah satu dosen kampusnya, pak Eka yang bahkan tak pernah
mengajarnya. Maklum beda jurusan, namun mereka tetangga. Dina pindah rumah ke
sebelah rumah pak Eka.
Sabtu, 13 September 2014
Kecupan Untuk Mbah Putri
![]() |
| Source: google |
Mbah ...
Ada seputaran Marcapada pada Baskara.
Namun belum genap tiga puluh hari, rasanya. Kita iring Mbah Kakung dengan
pakaian dinas putih, mencium kisma di bawah gundukannya dengan bambu bendera
merah putih besi tertancap, rapi. Menghadap komandan yang paling komandan. Komandan
Pramudita dengan segala isinya. Kita menangis, kala itu, dalam haru. Namun sepertinya
kini Mbah Putri sudah terlalu rindu.
Minggu, 17 Agustus 2014
Sabtu, 24 Mei 2014
Writing Backsound #1 Sujet De L'amour
Assalamu'alaykum, Sobats dan para penikmats musik. :D
Ini ceritanya pake 's' karena objeknya banyak. -.-
Ini ceritanya pake 's' karena objeknya banyak. -.-
Ok, back to main topic. Kali ini aku ingin share pada Sobats tentang writing backsound. Jadi musik atau lagu yang sering aku pake untuk backsound ketika aku sedang nulis gitu. Hakhak.
Nah, yang namanya nulis kan biasanya butuh ketenangan bukan? Jadi ya musik atau lagu yang aku share sama Sobats identik dengan musik instrumen. Nggak semuanya instrumental, sih. Pokoknya yang slow asik atau santai, jadi nggak yang nge-rock atau metal. :D Ok langusng aja. Aku akan men-share beberapa tema writing backsound, tapi untuk posting kali ini temanya adalah Sujet De L'amour.
Nah, yang namanya nulis kan biasanya butuh ketenangan bukan? Jadi ya musik atau lagu yang aku share sama Sobats identik dengan musik instrumen. Nggak semuanya instrumental, sih. Pokoknya yang slow asik atau santai, jadi nggak yang nge-rock atau metal. :D Ok langusng aja. Aku akan men-share beberapa tema writing backsound, tapi untuk posting kali ini temanya adalah Sujet De L'amour.
Rabu, 21 Mei 2014
RENDJANA ; Buku Kumpulan Puisi Tentang Kerinduan
Adakah yang rindu lahirnya Kahlil Gibran? atau rindu munculnya sosok Pablo Neruda? Masih adakah orang yang peduli dengan rangkaian kata manis dan puitis? Ah, seringkali dengan sinis kita katakan hal semacam itu sudah kadaluarsa, seiring dengan semakin dinamisnya cara mengungkapkan rasa.
Ekspresi kekaguman seringkali kita permudah dengan selembar kartu atau bahkan selarik kalimat yang terucap di ujung ponsel. Tak ada lagi rasa dag dig dug jantung kala menatap mata sang pujaan hati. Tak ada lagi rasa berdegup kencang dengan berjam-jam terdiam membisu di sampingnya. Ekspresi cinta sering dilukiskan secara instant. Lewat boneka berbentuk hati, mawar kertas tanpa duri, atau bunga yang mekar dari bank, dan beralasan bahwa itu sangat bermakna dan bermodal daripada sekedar kata-kata.
Ekspresi kekaguman seringkali kita permudah dengan selembar kartu atau bahkan selarik kalimat yang terucap di ujung ponsel. Tak ada lagi rasa dag dig dug jantung kala menatap mata sang pujaan hati. Tak ada lagi rasa berdegup kencang dengan berjam-jam terdiam membisu di sampingnya. Ekspresi cinta sering dilukiskan secara instant. Lewat boneka berbentuk hati, mawar kertas tanpa duri, atau bunga yang mekar dari bank, dan beralasan bahwa itu sangat bermakna dan bermodal daripada sekedar kata-kata.
Langganan:
Postingan (Atom)













