Senin, 10 November 2014

Hujan 21 November


       Sebuah sore di Jakarta. Rona jingga menyemburat indah dari langit barat, menyentuh lembut atap-atap gedung yang berdiri angkuh di segala penjuru ibu kota. Meski langit sudah berubah warna, debu masih saja jalan-jalan di sana-sini, tak ada habisnya. Di sebuah rumah, di sebuah kamar, Cinta sedang berbaring di bed, tiduran. Ia asik senyum-senyum sendiri sejak satu jam yang lalu. Mukanya cerah, sama cantiknya dengan senja di atas sana. Ia tampak begitu bahagia. Di sampingnya tergeletak sebuah amplop putih bertuliskan: To Cinta...
       Cinta tak bisa diam, beberapa kali ia mengubah posisi baringnya, memeluk erat gulingnya. Senyumnya tak kunjung reda, masih setia mematung di wajahnya yang merona. Dibacanya lagi kertas yang sejak sebelum senyumnya tumbuh itu ia genggam. Ia tersenyum lagi, lebih lebar kali ini.

          Untuk Cinta,

         Cinta, apa kabar kamu? Saya harap baik-baik saja. Gelak nabi merpati putih di jendela gedung abu mengusik. Tawa saja dia mengintipku. Menyendiri di sudut kamar yang tak rapi seraya memandang langit-langit. Sesekali pada mulut menyelisik bisik, namamu. Sepertinya sudah terlampau lama kita tidak bertemu. Tiga tahun, bukan?
       Saya sekarang sedang kuliah di salah satu universitas di New York. Kalau kamu di mana? Ta, senin tanggal dua puluh satu November ada waktu? Saya pulang ke Indonesia. Saya ingin bertemu kamu.
           Saya tunggu kamu senin ketika matahari sedang mengusap mata di ufuk timur,, pukul 06:15 di bandara Soekarno-Hatta. Saya harap kamu datang.

            Di balik jendela yang menatap purnama New York,  5 Oktober 2005
            Rangga.

        Tangan dan kaki Cinta memukul-memukul muka bed. Gemas. Ia lirik lagi surat dari Rangga. Lalu ia sematkan surat itu ke dadanya. Matanya terpejam, senyum kembali tersungging, lebih manis lagi dari sebelumnya.
       Begitulah, sejak saat itu warna menghiasi hari-hari Cinta. Tampak sebuah coretan lingkaran merah di tanggal dua puluh satu pada kalender yang mematung, di sudut meja belajar Cinta. Pada kolom atasnya, ada coretan silang pada beberapa tanggal. Cinta menanti-nanti tanggal dua puluh satu: pertemuannya dengan Rangga.

~~*~~

            Ramai tampak di sebelah selatan sebuah kota yang identik dengan warna coklat pada bangunan-bangunannya, kota Jamaica Queens, New York. Matahari sudah mulai turun di barat ketika Rangga sampai di bandara John F. Kennedy. Ia menghela nafas panjang. Menahan deburan keras yang mampir di dadanya. Senyum terpampang di wajahnya. Ia terlihat bersemangat sekali. Sepertinya ia sudah menyiapkan badannya untuk terbang lama ke Dubai sebelum akhirnya sampai ke Indonesia.
            Rangga menyusuri terminal 4 bandara John F. Kennedy dengan langkah tegap. Tangan kirinya menggeret koper besar hitam pekat, sedang tangan kanannya menggenggam segelas kopi panas. Ia sampai pada bagian pengecekan bagasi. Seorang petugas berseragam biru memeriksa pakaian Rangga, jaket dan topinya dilucuti. “He is clear,” ucap petugas itu pada temannya yang berseragam sama.
Selesai diperiksa, Rangga berjalan menyusuri koridor dengan tiang-tiang baja menjulang di tengahnya. Menuju ujung terminal, gates terakhir. Sepertinya Rangga tak sabar untuk cepat sampai di Indonesia. Ia mempercepat langkah, meski ia tahu itu takkan mengubah jadwal keberangkatan pesawat.
Telepon genggam Rangga berdering ketika Rangga sampai di gates B22. Ia mengangkatnya. Sedetik kemudian senyum yang tadinya menghias wajah Rangga kini luntur. Sebuah berita yang ia dengar di telepon mengguncangnya. Dadanya tiba-tiba sesak. Sakit benar. Matanya mulai berair. Tangis deras berderai di wajah Rangga. Ada yang berkecamuk di pikirannya. Namun segera ia tepis, semoga hal buruk yang ia pikirkan tidak terjadi. Rangga langsung berbalik, berlari, menjauh dari gates yang harusnya ia datangi, menuju pintu keluar bandara. Baru saja Rangga mendapat kabar, ayahnya kritis di rumah sakit.

~~*~~

            Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu,
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku melihat karya surga,
Dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta

Tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya..

Bukan untuknya, bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja

            Cinta menutup lembaran terakhir buku catatan harian hitam milik Rangga. Ia mendongak ke atas, senyum terjelma dalam wajahnya yang merona.
            Padahal matahari masih sembunyi. Cinta sudah sampai saja di bandara Soekarno-Hatta. Terlihat sekali bagaimana ia tak bisa bersabar untuk cepat-cepat bertemu dengan Rangga. Tiga tahun bukan waktu yang sedikit untuk memenjarakan rindu yang terus membuncah di hatinya tiap detiknya. Ia masih tersenyum. Cantik sekali.
            Apakah satu purnama di New York selama ini? Tiga tahun? Hihi. Cinta terkekeh. Jika tahu seperti ini gue pasti nyuruh Rangga buat nggak perlu menunggu purnama untuk pulang kembali ke Indonesia. Batin Cinta. Ia kembali tersenyum, lebar, sampai terlihat giginya.
            Bandara Soekarno-Hatta riuh oleh orang-orang yang hendak bepergian ketika matahari mulai nampak. Sebelumnya masih agak lengang. Cinta masih di situ. Duduk manis di lobby terminal 1 bandara.
            Rangga, gue udah nyiapin jawaban buat pertanyaan lo. Jawaban yang masih sama dengan kalimat yang gue ucapin ketika kita terakhir berpisah. Dan jawaban ini pasti akan mengalir tanpa ragu ketika lo tanyain nanti. Gue sayang banget sama lo, Rangga.

~~*~~

            “Rangga?”
            “Ya?” Rangga terperanjat dari tempat duduknya. “How is my father’s condition, Doc?”
            “Im so sorry, Rangga. I’ve tried as much as possible.” Kalimat dokter tua berkaca mata itu menusuk hati Rangga. Hati Rangga menciut, sesak. Tentu saja.
            “Dokter pasti bercanda kan, Dok? Dokter bercanda kan?” Dokter itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sekali lagi dokter tua berkaca mata meminta maaf pada pemuda yang sekarang kakinya bergetar itu.
Napas Rangga tersengal-sengal. Bulir segera turun dari sudut mata Rangga. Ia segera berhambur memasuki ruang periksa. Dilihatnya sosok tua yang bisu di ranjang dengan wajah tirus itu. Rangga menggoncang-goncangkan badan ayahnya. Namun percuma. Nyatanya yang tergeletak di depan mata Rangga sekarang tinggallah raga tanpa nyawa.
Rangga semakin keras menangis. Ia menjerit. Lalu suasana ruang periksa rumah sakit itu menjelma gelap penuh luka.

~~*~~

Di lain tempat, di waktu yang sama. Cinta masih duduk di bangku pojok di lobby bandara Soekarno-Hatta. Ia lirik jam tangannya, jarum jam sudah menunjukkan pukul 09:37. Dahinya mengerut, raut wajahnya sudah berubah menjadi kecut sejak dua setengah jam yang lalu. Ia mendengus—entah sudah keberapa kalinya—kesal. Jelas saja. Cinta merasa begitu bodoh masih menunggu Rangga, bahkan setelah tiga setengah jam dari waktu yang dijanjikan.
“Elo mana sih, Rangga? Aargghhh!!!” Wajah Cinta mengeras, merah padam. Ia begitu kesal, pun sangat kecewa. Mukanya terlihat begitu depresi. Jari-jarinya mengetuk-ketuk  tempat duduknya. Lalu ia genggam kuat buku harian Rangga.
“Kamu kemana sih, Rangga? Kamu kenapa jahat banget gini sama saya, Rangga...” suara Cinta kini melemah, ia tertunduk. Matanya berembun. Satu bulir jatuh, lalu dua, tiga, kini deras mengalir. Membanjiri pipi Cinta, lalu terjun melalui dagunya. Cinta menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis sesenggukan. Beberapa orang mulai curi-curi memperhatikannya. Ia tak peduli. Ia tetap menangis, dan terus saja menangis. Hatinya begitu sakit, hatinya begitu terkoyak. Cinta sangat kecewa.
Tidak hanya wajah Cinta yang basah, di luar sana rintik mulai turun. Langit memekat. Seakan tahu apa yang dirasakan Cinta, rintik gerimis itu menjelma menjadi hujan. Beberapa orang yang berada di jalanan bandara berlarian mencari tempat untuk berteduh terdekat. Di dalam bandara, di lobby, Cinta masih menangis, tak kalah derasnya dengan hujan di luar.
November telah menghunus belati. Menoreh cerita luka untuk Rangga dan Cinta.

111114, Tengah malam di kamar, Jimbaran, Bali.
*Tribute to film Ada Apa Dengan Cinta (2002)

0 komentar:

Posting Komentar