Selasa, 22 September 2015

Racauan Ranting

dok pribadi

Langit hampir lelah menghitam.
Bahasa-bahasa mengatakan ini
waktu paling mustajab untuk berbincang dengan-Mu.
Bukankah begitu?
Jika memang demikian, saya ingin bukan berbincang, tapi
——

Tak akan saya tanyakan boleh atau tidak. Kali ini saya memaksa, sebagaimana manusia, yang tiap kali meminta dengan dagu mengangkasa!

Protes, Tuhan!

Saya ingin protes, tentang saya yang tidak punya malu dan tiada henti menentang, menyangkal-Mu! Atas segala kebaikan yang Kau turunkan. Tidak lagi sering, ketika saya diberi satu, saya minta dua! Ketika Kau beri dua, saya minta tiga! Ketika diberi tiga setengah, saya minta dunia.

Tuhan, ooo, Tuhan, saya hanya manusia.

Bukankah wajar jika saya memiliki protes? Bahkan, sekali lagi, saya protes tentang kenapa saya mempunyai protes. Duh! Bengah saya, berangan dan berkeinginan selangit, lalu  tangan ini harus bisa menggapainya. Rangah saya menyuruh Engkau mengabulkan. Padahal yang namanya meminta haruslah menerima, seadanya. Lalu siapa saya hingga berhak berarogansi kepada-Mu untuk meminta?

Allah, ooo, Allah, saya hanya manusia.

Padahal, semisal saja, saya sedang lelah melangkah, saya bisa menaiki sepeda ontel. Jika lelah pula, tercipta motor. Kurang puas, aelah mobil pun ada. Jika tidak (merasa) memilikinya, ojek dan angkot sudah nangkring menanti.

Padahal, mau  kaki berdarah, motor, mobil, ojek dan angkot hancur tak bersisa sekali pun, jika tidak mengarah pada-Mu, sama saja.

Jika memang begitu, untuk apa lagi saya protes meminta lebih?

Ah,

bodoh,

baru saja ...

uh,

iya.

Ternyata memang benar, ketika malam sudah lelah gelap, adalah waktu mustajab, berbincang dengan-Mu.

Bolehkah lain kali, saya curhat lagi?

Semarang, 22092015.

Gambar: dok pribadi

0 komentar:

Posting Komentar