Langit hampir lelah menghitam.
Bahasa-bahasa mengatakan ini
waktu paling mustajab untuk berbincang dengan-Mu.
Bukankah begitu?
Jika memang demikian, saya ingin bukan berbincang, tapi
——
Tak akan saya tanyakan boleh atau tidak. Kali ini saya
memaksa, sebagaimana manusia, yang tiap kali meminta dengan dagu mengangkasa!
Protes, Tuhan!
Saya ingin protes, tentang saya yang tidak punya malu dan
tiada henti menentang, menyangkal-Mu! Atas segala kebaikan yang Kau turunkan. Tidak
lagi sering, ketika saya diberi satu, saya minta dua! Ketika Kau beri dua, saya
minta tiga! Ketika diberi tiga setengah, saya minta dunia.
Tuhan, ooo, Tuhan, saya hanya manusia.
Bukankah wajar jika saya memiliki protes? Bahkan, sekali
lagi, saya protes tentang kenapa saya mempunyai protes. Duh! Bengah saya, berangan
dan berkeinginan selangit, lalu tangan
ini harus bisa menggapainya. Rangah saya menyuruh Engkau mengabulkan. Padahal yang
namanya meminta haruslah menerima, seadanya. Lalu siapa saya hingga berhak
berarogansi kepada-Mu untuk meminta?
Allah, ooo, Allah, saya hanya manusia.
Padahal, semisal saja, saya sedang lelah melangkah, saya
bisa menaiki sepeda ontel. Jika lelah pula, tercipta motor. Kurang puas, aelah mobil pun ada. Jika tidak (merasa)
memilikinya, ojek dan angkot sudah nangkring menanti.
Padahal, mau kaki
berdarah, motor, mobil, ojek dan angkot hancur tak bersisa sekali pun, jika
tidak mengarah pada-Mu, sama saja.
Jika memang begitu, untuk apa lagi saya protes meminta lebih?
Ah,
bodoh,
baru saja ...
uh,
iya.
Ternyata memang benar, ketika malam sudah lelah gelap,
adalah waktu mustajab, berbincang dengan-Mu.
Bolehkah lain kali, saya curhat lagi?
Gambar: dok pribadi






0 komentar:
Posting Komentar