Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!
Tanahku, negeriku, yang kucinta.
Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!
Hiduplah Indonesia raya...
Sepi. Khidmat.
Lagu di atas dinyanyikan penuh
semangat
Pandangan lurus badan tegap
Jari-jari tangan kanan terangkat
Menempel pada alis di bawah jidat
Seorang pemimpin berpidato lantang
Di tengah lapangan gersang
Di sekolah, kantor, maupun sudut
jalan
Di desa, kota, dan di mana saja
Seorang pemimpin berteriak
menjulang
Di tengah lapangan gersang,
Atau di tengah hati yang gersang?
Merdeka! Katanya.
Ha. Ha. Ha.
Merdeka? Itu sudah purba sekali.
Lihat saja sekarang, kekacauan
masih berseliweran.
Rampok-rampok keadilan dengan
ketidak-adilan,
Perkosa diri dengan palsu
janji-janji,
Lalu kemerdekaan macam apa yang hendak
kau berikan?
Merdeka. Apanya?
Ketika hendak mengeluarkan pendapat
saja dilarang,
Ketika hendak turun ke jalan saja
dikekang,
Ketika atas hak kami, kau ciptakan
batasan.
Lalu kemerdekaan mana yang kau
katakan?
Merdeka? Mana?
Anak yatim kaki berkapal tak
bersandal
Merengsot ke jalan membanting
tulang
Untuk mencium aroma buku pelajaran
Berharap suatu saat mencecap bangku
di depan papan tulis hitam
Merdeka? Mana?
Kota-kota besar diperhatikan
Desa kecil terpencil dianak-tirikan
Para berdasi semakin konglomerat
Para tak beralas kaki semakin
melarat
Merdeka? Mana?
Kaum elit impor sini impor sana
Karya anak bangsa dipandang sebelah
mata
Kaum trendi malu dengan bahasa
sendiri
Katanya bahasa luar lebih bergengsi
Kemerdekaan adalah anak kecil yang
merasa besar,
Anak tak bertuan yang merasa
bertuan
Anak bangsa yang merasa mempunyai
bangsa,
Yang dibanggakan.
...Indonesia raya. Merdeka!
Merdeka!
Tanahku, negeriku, yang kucinta...
Ah, ini nyanyian bukan sembarang
nyanyian.
Ini adalah nyanyian dari semangat
yang tak pernah padam,
Ini adalah nyanyian kebanggan,
nyanyian kemerdekaan.
Aku bernyanyi dengan mata basah
Tuhan...
Semoga hormat kami hari ini,
Bukan sekadar hormat ritual keramat
tahunan,
Jadikan hormat kami hari ini,
Sebagai hormat yang kami lakukan,
Atas dasar hati yang penuh dengan
kebanggaan.
...Indonesia raya. Merdeka!
Merdeka!
Hiduplah Indonesia raya.
Dirgahayu untukmu,
Negeriku. Indonesiaku.
170814, siang yang garang.






gus mus sekali
BalasHapusHaha. Berlebihan kamu. Mana pantas aku disamain sama Gus Mus. Tapi, terimakasih, Anonim. :D
Hapusmaksudnya puisi plus lagu nya mirip seperti puisi yg dbawakan gus mus.
BalasHapusIya kah? Puisi Gus Mus yang mana? Semoga saja memang hanya mirip. :)
Hapus