Minggu, 17 Agustus 2014

Merdeka? Mana? (Sebuah Puisi Kemerdekaan)

Source: Google
...
Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!
Tanahku, negeriku, yang kucinta.
Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!
Hiduplah Indonesia raya...

Sepi. Khidmat.
Lagu di atas dinyanyikan penuh semangat
Pandangan lurus badan tegap
Jari-jari tangan kanan terangkat
Menempel pada alis di bawah jidat

Seorang pemimpin berpidato lantang
Di tengah lapangan gersang
Di sekolah, kantor, maupun sudut jalan
Di desa, kota, dan di mana saja

Seorang pemimpin berteriak menjulang
Di tengah lapangan gersang,
Atau di tengah hati yang gersang?
Merdeka! Katanya.
Ha. Ha. Ha.

Merdeka? Itu sudah purba sekali.
Lihat saja sekarang, kekacauan masih berseliweran.
Rampok-rampok keadilan dengan ketidak-adilan,
Perkosa diri dengan palsu janji-janji,
Lalu kemerdekaan macam apa yang hendak kau berikan?

Merdeka. Apanya?
Ketika hendak mengeluarkan pendapat saja dilarang,
Ketika hendak turun ke jalan saja dikekang,
Ketika atas hak kami, kau ciptakan batasan.
Lalu kemerdekaan mana yang kau katakan?

Merdeka? Mana?
Anak yatim kaki berkapal tak bersandal
Merengsot ke jalan membanting tulang
Untuk mencium aroma buku pelajaran
Berharap suatu saat mencecap bangku di depan papan tulis hitam

Merdeka? Mana?
Kota-kota besar diperhatikan
Desa kecil terpencil dianak-tirikan
Para berdasi semakin konglomerat
Para tak beralas kaki semakin melarat

Merdeka? Mana?
Kaum elit impor sini impor sana
Karya anak bangsa dipandang sebelah mata
Kaum trendi malu dengan bahasa sendiri
Katanya bahasa luar lebih bergengsi

Kemerdekaan adalah anak kecil yang merasa besar,
Anak tak bertuan yang merasa bertuan
Anak bangsa yang merasa mempunyai bangsa,
Yang dibanggakan.

...Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!
Tanahku, negeriku, yang kucinta...

Ah, ini nyanyian bukan sembarang nyanyian.
Ini adalah nyanyian dari semangat yang tak pernah padam,
Ini adalah nyanyian kebanggan, nyanyian kemerdekaan.
Aku bernyanyi dengan mata basah
Tuhan...
Semoga hormat kami hari ini,
Bukan sekadar hormat ritual keramat tahunan,
Jadikan hormat kami hari ini,
Sebagai hormat yang kami lakukan,
Atas dasar hati yang penuh dengan kebanggaan.

...Indonesia raya. Merdeka! Merdeka!
Hiduplah Indonesia raya.
Dirgahayu untukmu,
Negeriku. Indonesiaku.


170814, siang yang garang.

4 komentar:

  1. Balasan
    1. Haha. Berlebihan kamu. Mana pantas aku disamain sama Gus Mus. Tapi, terimakasih, Anonim. :D

      Hapus
  2. maksudnya puisi plus lagu nya mirip seperti puisi yg dbawakan gus mus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kah? Puisi Gus Mus yang mana? Semoga saja memang hanya mirip. :)

      Hapus