![]() |
| Source: google |
Mbah ...
Ada seputaran Marcapada pada Baskara.
Namun belum genap tiga puluh hari, rasanya. Kita iring Mbah Kakung dengan
pakaian dinas putih, mencium kisma di bawah gundukannya dengan bambu bendera
merah putih besi tertancap, rapi. Menghadap komandan yang paling komandan. Komandan
Pramudita dengan segala isinya. Kita menangis, kala itu, dalam haru. Namun sepertinya
kini Mbah Putri sudah terlalu rindu.
Mbah, lihatlah ...
Dewi Gemintang kini terbelalak tiada
mengerti. Malam menepi. Warayang melambaikan bisik dari seberang. Umpatku pada
aku yang terjarak penenggelam. Kabar angin menjelma belati. Merobek telinga,
mata, dan hati. Sejatinya air mataku telah menangis. Haru akan cinta dan
rindumu yang tiada terkikis.
Mbah, tunggu aku ...
Aku pulang. Tiada peduli kecamuk
hati. Pun berdarah kaki berlari. Tunggu aku untuk memberi kecup terakhir. Dan akan
kuantar kerinduan Mbah Putri menemui Mbah Kakung. Biar aku iringi pembaringanmu
sampai sisi Kisma. Menemaninya menemui-Nya.
Mbah Putri ...
Ikhlasku. Bersama anak-anak dan
cucu-cucumu. Dengan derai hujan yang mampir mengalir membanjir pipi. Jangan khawatir.
Ini tangis haru, yang mengantar Mbah memburai rindu yang terlalu rindu pada kekasih
dan Sang Maha Kekasih. Dan kisahmu akan melegenda pada anak cucuku nanti, pun
di antara rerumputan, angin, karang, langit, dan di mana saja. Aku yang akan bercerita
pada mereka. Semoga Mbah Putri tenang di sana. Di kehidupan setelah kehidupan. Kehidupan
abadi yang sebenarnya. Allahummaghfirlahaa warchamhaa wa ‘aafihaa wa’fu ‘anhaa.
Selamat tinggal untuk Mbah, purnama terakhir dari garis Abah.
12092014 00:05, Bali,
dalam derai tangis setelah kabar sore tadi. Tunggu, Mbah, secepatnya aku ke
Wonosobo. Semoga amal Mbah diterima dan diridhoi oleh-Nya.






0 komentar:
Posting Komentar