Semakin
ke sini semakin banyak yang membicarakan tentang korupsi. Dari pemerintahan
yang berkoar-koar anti korupsi, namun entah, nyatanya banyak berita kasus penyelundupan
dana dari dalam pemerintahan itu sendiri, lalu banyaknya mahasiswa yang
meninggalkan kelasnya untuk turun ke jalan, demo anti korupsi, lalu digiring
keamanan karena demo dengan anarki. Lalu siapa yang pantas disebut korupsi? Siapa
yang patut disalahkan?
Dina,
anak kuliahan biasa yang sedikit nakal, menjadi berubah setelah
bertemu dengan salah satu dosen kampusnya, pak Eka yang bahkan tak pernah
mengajarnya. Maklum beda jurusan, namun mereka tetangga. Dina pindah rumah ke
sebelah rumah pak Eka.
Pagi
itu, ketika pak Eka pergi ke restoran untuk sarapan, pak Eka melihat Dina sedang di sana. Ia menelepon temannya. Men, gue absenin ya? Agak nggak enak
badan nih. Padahal Dina terlihat sehat. Pak Eka memperhatikan Dina karena
Dina memakai almamater kampus tempat ia mengajar, namun sepertinya Dina bukan
mahasiswa jurusannya. Pak Eka hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Esoknya,
ketika di kampus, pak Eka tak sengaja melihat Dina sedang berbicara dengan
temannya. Entah apa yang dibicarakan, namun pak Eka melihat Dina menyerahkan
buku tugas ke temannya dan temannya memberikan uang ke Dina. Pak Eka hanya tersenyum
kecut lalu menggelengkan kepala.
Suatu
siang. Ketika di kantin. Dina mendatangi pak Eka. Rupanya Dina mahasiswa hukum,
sedang pak Eka dosen sastra. Dina mewawancarai pak Eka tentang korupsi yang
terjadi di Indonesia. Dan rupanya Dina sedang ada tugas yang dimana
pengumpulan tugas dan presentasi besok paginya. Lalu pak Eka menjawab, saya
nggak akan membahas tentang korupsi di Indonesia, namun di sini, di kampus ini.
Saya pernah melihat seorang mahasiswi yang menelpon temannya bilang sedang
sakit padahal ia sehat, korupsi waktu. Lalu ia mengerjakan tugas temannya
dengan imbalan, korupsi transitif. Lalu menyontek ketika ujian, dsb. Tak perlu
yang besar, lihatlah dari yang kecil. Semua dimulai dari yang terkecil, dari diri
sendiri. Jelas pak Eka sambil menepuk pundak Dina. Jika tidak ada yang sadar,
maka modar, modarlah kejujuran dan merdekalah kekorupsian.
Dina merasa tersindir, ia lalu pergi. Di taman, ia mengumpat-umpat. Sorenya, Dina masih belum mendapat sumber lain. Ia berfikir, merenung, lalu teringat bayangan
kakaknya yang ditangkap polisi. Ia menangis.
Setelah
hari itu, pak Eka tak pernah melihat Dina di restoran tempat ia biasa membolos,
Dina jadi rajin berangkat tepat waktu. Lalu pak Eka melihat foto Dina terpampang di mading, di situ tertulis,’Pemenang Lomba Anti Korupsi Tingkat
Provinsi'. Pak Eka tersenyum puas. Semua dimulai dari diri sendiri, dimulai
dari yang terkecil. Satu anak kecil bisa membawa perubahan besar bagi suatu negara.
Sekian~
171014. Sinopsis film pendek ini belum diproduksi.






0 komentar:
Posting Komentar