ELFRIDA
AUDELIA masih saja sibuk menyeka hujan yang mengalir di pipinya dengan tangan
kiri. Tidak peduli lagi sampai kapan hujan itu akan turun, ia memutuskan untuk
menghabiskan harinya di tempat itu, duduk di salah satu dari dua kursi bundar
yang terbuat dari kayu, tempat favoritnya bersama ibu.
Tinggal kisah yang tergores dan terucap di
akalku ...
Tangan
kanan gadis itu gemetar menarikan pena di buku diary hijau miliknya.
Sepertinya tenaganya terkuras habis untuk menangis. Lia tak kuasa lagi menahan isaknya.
Setitik air mata berhasil luput dari sekaan tangan kirinya, jatuh di permukaan
buku di samping mata pena, memburamkan sedikit tinta yang sudah membariskan
kata.
Langit
memekat, mendung. Gerimis mulai turun.
Bau
petrichor mengusik Lia. Harusnya ia menyukainya. Bukankah aroma tanah basah itu
menyenangkan? Menghasilkan sebuah kesegaran dan ketenangan? Namun kejadian tadi
siang membuat bau itu menjadi pahit, membuat bau itu menjadi belati yang meninggalkan
luka. Luka yang begitu dalam. Lia tak pernah merasakan sakit yang sesakit ini
sebelumnya.
Adilkah?
Harusnya Lia hari ini bahagia karena ia baru saja dinyatakan lulus. Lihat saja,
ia bahkan masih mengenakan seragam osisnya. Namun kenapa secepat ini Tuhan
mengubah bahagia menjadi duka? Tidakkah harusnya gadis itu diberi kesempatan
untuk merasakan kebahagiannya bersama keluarga? Aku lulus, Bu, Kak...
Gerimis
di langit menjadi deras. Tangis Lia pun semakin deras. Ia tak ingin air matanya
menumpahi tulisan yang susah-payah ia tulis. Maka, ia letakkan penanya dan
segera menelungkupkan kedua tangan ke muka. Dadanya terasa sesak, sakit. Lia
menangis sesenggukan.
***
Tinggal kisah yang tergores dan terucap di
akalku
Cukupkah lembaran cerita merekam kasih itu?
“Bu,
tadi Pak Guru nanyain arti nama Lia. Emang nama Lia artinya apa?” Lia mendongak
ke arah Bu Feta.
Bu
Feta tersenyum mendengar pertanyaan Lia. Ia berhenti menatap hujan, mengalihkan
tatapan ke arah gadis kecilnya itu. Ia lepaskan silangan tangannya dari perut
Lia, lalu membelai rambut Lia dengan lembut. Sama lembutnya dengan tatapannya.
“Elfrida
itu artinya peri yang kuat. Kalau Audelia ... artinya kuat dan mulia.”
“Peri
kan harusnya lembut kayak di film-film barbie, Bu ..., kok kuat? Kayak laki-laki
dong?” Bu Feta terkikik mendengar ucapan Lia. Ia kembali memeluk Lia dari
belakang.
“Karena
ibu pengen Lia itu kayak peri, cantik, lembut ..., tapi ibu juga pengen Lia jadi
wanita yang kuat nantinya.”
Lia
melompat turun dari pangkuan Bu Feta. Lalu berpindah ke kursi kayu bundar di
sebelah ibunya.
“Ada
apa?”
“Lia
nggak mau manja lagi, Lia mau jadi anak yang kuat.”
Bu
Feta tersenyum sekali lagi. Tangannya sontak terulur, mengacak-acak rambut hitam
legam milik Lia, gemas. Betapa lucunya gadis kecilnya itu.
“Bu.”
“Ya?”
“Baunya
hujan enak ya?”
“Petrichor.”
“Petrichor?”
Lia menatap nanar Bu Feta.
“Iya.
Namanya Petrichor. Lia suka?”
“Um!”
angguk Lia seraya tersenyum lebar.
Lia
lalu menyeka air matanya. Ia berusaha menahan bulir-bulir itu agar tak lagi
keluar. Bukankah ia sudah berjanji pada ibunya untuk jadi orang yang kuat? Maka
ia tak boleh menangis lagi. Ia harus kuat. Ibu
pasti sedih kalau melihat Lia sedih, batinnya.
Tinggal kisah yang tergores dan terucap di
akalku
Cukupkah lembaran cerita merekam kasih itu?
Mampukah berbait syair melantunkan rasa
rindu?
(lirik lagu Senandung Senja dari
RusaMilitan)
Lia
menyelesaikan kalimat terakhir dari tulisannya. Ia taruh pena di atas meja,
kemudian kembali mengusap matanya, memastikan tidak ada air mata yang tersisa.
“Bu?
Apakah hidup juga akan berakhir bahagia seperti kebanyakan dongeng?”
“Tidak
selalu, Lia. Tapi sejatinya kebahagian itu selalu ada. Di sini. Di hati kita
masing-masing.”
Lia
akhirnya tersenyum. “Ibu benar. Aku nggak boleh sedih. Aku baik-baik aja.”
Ya, aku baik-baik saja. Dan kurasa, aku pun
sudah siap untuk menciptakan kisah berakhir bahagiaku sendiri.
***
NB: Paragraf terakhir diambil dari ending novel Happily Ever After karya Winna Efendi. Cerpen ini saya buat
untuk memperingati hari Ibu. Semoga yang membaca semakin bersyukur karena
pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ibu.
Cerpen ini juga saya buat untuk menjawab
tantangan #ImajinasiPenutup dari Mimin @KampusFiksi.






0 komentar:
Posting Komentar