Senin, 22 Desember 2014

Petrichor

ELFRIDA AUDELIA masih saja sibuk menyeka hujan yang mengalir di pipinya dengan tangan kiri. Tidak peduli lagi sampai kapan hujan itu akan turun, ia memutuskan untuk menghabiskan harinya di tempat itu, duduk di salah satu dari dua kursi bundar yang terbuat dari kayu, tempat favoritnya bersama ibu.

Tinggal kisah yang tergores dan terucap di akalku ...

Tangan kanan gadis itu gemetar menarikan pena di buku diary hijau miliknya. Sepertinya tenaganya terkuras habis untuk menangis. Lia tak kuasa lagi menahan isaknya. Setitik air mata berhasil luput dari sekaan tangan kirinya, jatuh di permukaan buku di samping mata pena, memburamkan sedikit tinta yang sudah membariskan kata.

Langit memekat, mendung. Gerimis mulai turun.

Bau petrichor mengusik Lia. Harusnya ia menyukainya. Bukankah aroma tanah basah itu menyenangkan? Menghasilkan sebuah kesegaran dan ketenangan? Namun kejadian tadi siang membuat bau itu menjadi pahit, membuat bau itu menjadi belati yang meninggalkan luka. Luka yang begitu dalam. Lia tak pernah merasakan sakit yang sesakit ini sebelumnya.

Adilkah? Harusnya Lia hari ini bahagia karena ia baru saja dinyatakan lulus. Lihat saja, ia bahkan masih mengenakan seragam osisnya. Namun kenapa secepat ini Tuhan mengubah bahagia menjadi duka? Tidakkah harusnya gadis itu diberi kesempatan untuk merasakan kebahagiannya bersama keluarga? Aku lulus, Bu, Kak...

Gerimis di langit menjadi deras. Tangis Lia pun semakin deras. Ia tak ingin air matanya menumpahi tulisan yang susah-payah ia tulis. Maka, ia letakkan penanya dan segera menelungkupkan kedua tangan ke muka. Dadanya terasa sesak, sakit. Lia menangis sesenggukan.

***

Tinggal kisah yang tergores dan terucap di akalku
Cukupkah lembaran cerita merekam kasih itu?

“Bu, tadi Pak Guru nanyain arti nama Lia. Emang nama Lia artinya apa?” Lia mendongak ke arah Bu Feta.

Bu Feta tersenyum mendengar pertanyaan Lia. Ia berhenti menatap hujan, mengalihkan tatapan ke arah gadis kecilnya itu. Ia lepaskan silangan tangannya dari perut Lia, lalu membelai rambut Lia dengan lembut. Sama lembutnya dengan tatapannya.

“Elfrida itu artinya peri yang kuat. Kalau Audelia ... artinya kuat dan mulia.”

“Peri kan harusnya lembut kayak di film-film barbie, Bu ..., kok kuat? Kayak laki-laki dong?” Bu Feta terkikik mendengar ucapan Lia. Ia kembali memeluk Lia dari belakang.

“Karena ibu pengen Lia itu kayak peri, cantik, lembut ..., tapi ibu juga pengen Lia jadi wanita yang kuat nantinya.”

Lia melompat turun dari pangkuan Bu Feta. Lalu berpindah ke kursi kayu bundar di sebelah ibunya.

“Ada apa?”

“Lia nggak mau manja lagi, Lia mau jadi anak yang kuat.”

Bu Feta tersenyum sekali lagi. Tangannya sontak terulur, mengacak-acak rambut hitam legam milik Lia, gemas. Betapa lucunya gadis kecilnya itu.

“Bu.”

“Ya?”

“Baunya hujan enak ya?”

“Petrichor.”

“Petrichor?” Lia menatap nanar Bu Feta.

“Iya. Namanya Petrichor. Lia suka?”

“Um!” angguk Lia seraya tersenyum lebar.

Lia lalu menyeka air matanya. Ia berusaha menahan bulir-bulir itu agar tak lagi keluar. Bukankah ia sudah berjanji pada ibunya untuk jadi orang yang kuat? Maka ia tak boleh menangis lagi. Ia harus kuat. Ibu pasti sedih kalau melihat Lia sedih, batinnya.

Tinggal kisah yang tergores dan terucap di akalku
Cukupkah lembaran cerita merekam kasih itu?
Mampukah berbait syair melantunkan rasa rindu?
(lirik lagu Senandung Senja dari RusaMilitan)

Lia menyelesaikan kalimat terakhir dari tulisannya. Ia taruh pena di atas meja, kemudian kembali mengusap matanya, memastikan tidak ada air mata yang tersisa.

“Bu? Apakah hidup juga akan berakhir bahagia seperti kebanyakan dongeng?”

“Tidak selalu, Lia. Tapi sejatinya kebahagian itu selalu ada. Di sini. Di hati kita masing-masing.”

Lia akhirnya tersenyum. “Ibu benar. Aku nggak boleh sedih. Aku baik-baik aja.”

Ya, aku baik-baik saja. Dan kurasa, aku pun sudah siap untuk menciptakan kisah berakhir bahagiaku sendiri.

***

NB: Paragraf terakhir diambil dari ending novel Happily Ever After karya Winna Efendi. Cerpen ini saya buat untuk memperingati hari Ibu. Semoga yang membaca semakin bersyukur karena pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ibu.

Cerpen ini juga saya buat untuk menjawab tantangan #ImajinasiPenutup dari Mimin @KampusFiksi.

0 komentar:

Posting Komentar