Senin, 15 Desember 2014

Sajak Sang Pembohong

Sajak-sajak palsu
Aku bertopeng senyum
Bah! Bohong saja
Nyatanya jika topeng dibuka
Basah di dalam
Kepala mengangguk mengerti
Padahal bimbang merajai
Wajah terlihat cerah berseri
Padahal aku senteri raut pucat pasi


Aku berdiri tegar
Bah! Bohong saja
Nyatanya jika tidak ramai
Terduduk raga lejar
Teriak aku tidak apa-apa
Ah, hanya teriakan maya
Muka kulukis ceria
Ah, aslinya terbalut lara

Di depanmu aku tersenyum
Di depanmu aku tegar
Di depanmu aku baik-baik saja
Sembunyikan luka
Kucilkan duka
Penjarakan lara

Padahal aku menangis setiap malam
Padahal aku meratap setiap petang
Kenapa aku terlambat mengenalmu?
Jika saja dulu, mungkin kau masih satu
Kenapa
 baru sekarang takdir mempertemukan?
Jika saja dulu, mungkin belum ada yang memilikimu

Ah, bodohnya aku
Kenapa kau ada di sana?
Mimpi-mimpi pada malam buta
Kenapa kau ada di sana?
Rona indah pada langit senja
Kenapa kau ada di sana?
Udara yang kuhirup setiap harinya

Ah, cukup sekian saja aku bimbang
Kulihat jam, sebentar lagi kau datang
Maka jika kau datang
Kembali topeng kupasang





0 komentar:

Posting Komentar