Rabu, 30 September 2015

Pulang

Sketsa Memeluk Kematian - Fakhri Cahyono

Sungguhpun,
Jika saja hidup seperti dongeng
Aku ingin memutar gerigi-gerigi
mesin berangka ke kiri
Agar waktu kembali di mana
Aku tidak perlu lagi pulang
Seperti sekarang

Mi,
Telah engkau beri aku nyawa
Dengan peluhmu
Dan tangis haru yang melukis memenuhi langit-langit
Kaubukakan jendela
Agar aku mengenal biru, hijau, anyir, dan getir
Kau awasi aku yang
Meraba-raba dinding atau menggoyangkan
Pelepah pisang beroda buatan Abah

Kau iringi rangkak
Dengan tangan memeluk kepala
Dan bahasa-bahasa surga

Tangan berkapal itu pula
Yang lembut mengusap
Ketika aku meringkuk ketakutan
Usai memecah piring dan kaca

Sering kausebut namaku
Di antara sayur mayur di pasar
Sedang Abah dengan binar
Bercerita tentangku yang nakal
Ketika berkeliling menjaja koran

Aku telah tumbuh, Um
Menjadi remaja pencari asing tawa
Melangkah angkuh kaki
Jauh dari ayunan
Dan menolak gendongan pundak Abah

Aku telah merasa dewasa
Hingga lupa
dengan wangi tangan
yang sering mencium kepala

Ketika kau rindu
Kukatakan waktu telah pergi
Kerjaan menggunung dan tak kunjung usai
Setelah aku sibuk seduh kopi bersama rekan dan bernyanyi
Sedang pada malam yang kian bisu
Kau gemetar merapal mantra
Untuk malaikat kecil yang hilang
Di perantauan

Namun dinding rumah dipenuhi jaring laba-laba
Tulang telah berkalung tanah
Kayu pun telah mengabu

Kini aku pulang
Meski terlambat
Meski tubuh meringkuk melejar
Dan perih menusuk relung menjalar
seluruh akar-akar

Maka mulai sekarang tidak lagi
Aku akan pergi

Akan kupecah dan kucurahkan semua isi kepala
Kucakar dada dan kutumpahkan isinya
Dan akan kuciumi batu bertulis namamu, Mi!

Hingga pula aku menyusul
Kembali tidur di pangkuanmu
Kita akan banyak menghabiskan waktu bersama
Sembari menunggu bumi dan langit bercinta

Ah, Ummi
Andai saja hidup seperti buku yang pernah kau dongengkan
Ingin aku terbang ke halaman-halaman lama
Di mana kau tahan aku terlampau jauh berlari
Hingga aku tak perlu lagi pulang
Seperti sekarang


©Sandékala, Semarang, 30092015

Ilustrasi: Sketsa Memeluk Kematian - Fakhri Cahyono

10 komentar:

  1. Entah kenapa, baca ini bikin tenang. Hehehe.
    Ada emosi yang berasa mau meledak, tapi bisa ditekan dengan kalemnya. Halaaah apa lah ini komen. Wkwkwk.
    Bagus, Fakh! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciyee yang akhirnya bisa komen. XD
      Syukurlah kalau berbuah emosi. Itu yang saya harepin. Wkwk, makasih, Mal!

      Hapus
  2. Cukup mengharukan, sahabat... Lanjutkan setiap perjuangan.. :)

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. puisinya bagus kak. pesannya tersampaikan :') :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, makasih Ema udah baca. Alhamdulillah kalau tersampaikan. :)

      Hapus
    2. iya kak. lanjutkan karyamu :D

      Hapus