Minggu, 14 Juni 2015

Mengais Kenangan


“Kau butuh pelampiasan, Jar.”

Anjar masih setia duduk diam di daun jendela kamar. Seperti biasa. Menunggu sore menuju senja. Padahal ini masih jam tiga. Burung betina saja masih keluyuran mencari makan untuk dibawakan ke anaknya yang masih tidur pulas di sangkarnya di atas pohon nangka yang berjarak satu setengah meter di samping jendela kamar Anjar. Masih lama.

“Jar?” panggil Rana dengan nada lebih tinggi daripada sebelumnya.

“Eh, ya?” Anjar menoleh ke arah Rana.

“Kau butuh pelampiasan.”

“Menurutmu begitu?”

“Ya, menurutku begitu.”

Anjar kembali memandang jauh ke barat. “Seperti?”

“Kau suka melukis, kan?”

“Lalu?”

Rana mengambil buku berukuran A3 di meja belajar Anjar, menimang-nimangnya, lalu menyodorkannya. “Ini, lampiaskan di buku sketsa ini,” ucapnya, “tumpahkan yang kau rasakan sekarang di sini. Mungkin itu akan sedikit meringankan bebanmu.”

Anjar hanya bergeming. Lama.

“Aku tunggu hasilnya ya, Jar?” ucap Rana akhirnya seraya menyisipkan senyum sebelum beranjak ke pintu dan pergi.

~***~

Sekarang ia tidak mempunyai semangat barang secuil pun. Semuanya terasa hambar.

Sayup-sayup semburat matahari yang mulai digulingkan bulan menelusup masuk lewat celah jendela, melewati onggokan remasan kertas yang berserakan, menyenggol sampah bekas minuman-minuman kaleng dan makanan ringan, lalu merambat di seprai yang berantakan, hingga akhirnya berhasil menyentuh kulitnya. Ia lalu menarik selimutnya untuk menutupi kakinya yang terkena sinar senja.

Lihatlah betapa kumalnya ia sekarang. Rambut berantakan, janggutnya yang malas dicukur, bahkan ia belum ganti baju tiga hari ini. Padahal dulu ia begitu rajin memerhatikan penampilan, tentu saja untuk kekasihnya.

Lihatlah tumpukan kertas-kertas tak beraturan bentuknya yang tergelepar di lantai, juga sampah makanan, sejak seminggu lalu itu. Dulu kamar ini begitu rapih. Ia rajin merapikannya, tentu saja untuk menyambut kekasihnya yang bisa datang kapan saja itu.

Ternyata memang benar, patah hati bisa membuat seseorang seolah mati. Tidak bergairah sama sekali. Hampa. Begitu yang dirasakan Anjar saat ini. Bukan saat ini, berhari-hari! Sejak kejadian lima bulan lalu di persimpangan jalan dekat kampus seusai wisuda.

Siang itu Anjar sedang melangkah girang ke tempat yang ia janjikan dengan Eren, sang kekasih. Gerak tawa ekspresif tanpa suara jelas terbit di wajahnya. Dan senyum itu semakin lebar tatkala Eren sudah terlihat di ujung persimpangan. Terbesit di pikiran Anjar, Eren akan melonjak bahagia dan memeluknya saat tahu bahwa hubungan mereka baru saja direstui sang ibu. Maka ia percepat langkahnya. Ia berlari. Ia biarkan toganya yang jatuh. Setibanya di depan Eren,

“Er, aku mau ngo ….”

“Sepasang kaos kaki udah hilang sebelah, Jar,” potong Eren cepat. Matanya sedu. Kontras dengan siang yang terik.

Anjar seketika diam. Badannya bergetar. Ia mengerti raut muka itu. Ia paham benar apa yang diucapkan Eren. Lalu apakah cuma sampai di sini? Untuk apa pula semua perjuangannya? Bahkan baru saja …. Ah, Anjar.

Ia memilih bungkam. Menunggu penjelasan keluar dari mulut Eren. Sedang Eren mulai terisak. Setelah itu cukup lama mereka bersunyi-sunyi.

Burung Gereja terbang rendah kemudian mendarat di antara Anjar dan Eren. Mencari kerikil kecil. Lalu ketika melihat mereka, seolah mengerti, burung itu memilih terbang kembali, mencari tempat lain.

“Maafkan aku, Jar.” Masih tidak ada suara lain selain isak Eren. “Aku dijodohkan dengan anak dari rekan kerja Ayah,” lanjutnya.

Anjar merasakan badannya semakin gemetar ketika mendengar penjelasan yang ditunggu. Mata memanas. Otak terasa mendidih. Lutut kaki melemah. Mendung di wajahnya makin pekat. Setetes air jatuh dari sudut mata. Sepiring bahagia yang tadinya ingin tumpah malah pecah, menjadi beling yang menyayat setiap rongga hatinya.

Sakit. Tentu saja. Sudah lama Anjar dan Eren mengaduk adonan kasih, sudah hampir matang, malah jatuh begitu saja.

Setelah itu Anjar menghabiskan waktunya untuk merenung, bergalau. Tidak ada semangat untuk mencari kerja. Hidupnya dilalui dengan hanya memandangi senja lewat jendela kamarnya. Hingga sahabatnya, Rana, menelepon Anjar untuk menanyakan kabar. Sudah sebulan Anjar mengurung diri.

Anjar meminta Rana untuk datang ke indekosnya. Lalu Anjar ceritakan semuanya. Ia menangis. Sampai-sampai Rana bingung harus berkata apa. Baru kali ini Anjar menangis. Rana mengenal Anjar sebagai sahabat yang selalu ceria, selalu semangat dalam mengejar apa saja yang ia suka, dan Anjar selalu mendapatkannya. Namun, sekarang melihat senyum khas Anjar saja bagai punuk merindukan bulan purnama. Sampai-sampai Rana terus diam hingga pulang. Rana hanya bisa menepuk pundak Anjar, dan itu tidak mengurangi sedikit pun kegalauan Anjar.

~***~

Rana tidak bisa diam. Ia mondar-mandir di kamarnya. Pikirannya dipenuhi dengan Anjar. Bahkan Rana belum sarapan, pun tidak berangkat kerja hari ini.

Ia bingung, bimbang. Bingung apa yang harus dilakukannya untuk menenangkan Anjar. Bimbang harus bersedih atau berbahagia atas apa yang menimpa sahabat sejak sekolah menengah pertamanya itu. Di satu sisi ia sangat sedih melihat Anjar bersedih, sedih tidak bisa menemukan senyum di bibir Anjar seperti biasanya. Di sisi lain ia tidak bisa memungkiri, ia bahagia atas putusnya hubungan Anjar dan Eren.

Ya, tebakanmu benar.

Sudah lama Rana menyukai Anjar. Tidak lama setelah mereka mengikrarkan persahabatan mereka. Namun Rana terlalu malu untuk mengungkapkannya. Jangankan mengungkapkan, memberi kode seperti yang biasa kita lakukan pun ia malu. Maka ia lebih memilih untuk mencintai dalam diam.

Rana teringat sesuatu. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Membuka laci, lalu mengambil sebuah foto. Lama ia pandangi foto itu hingga akhirnya sudut-sudut bibirnya terangkat. Ia telah memutuskan sesuatu.

~***~

Anjar menoleh ke arah buku sketsa setelah Rana menghilang di balik pintu dan bunyi pintu tertutup terdengar. Ia beranjak dari jendela dan mengambilnya. Menimang-nimangnya seperti yang Rana lakukan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengambil beberapa pensil di meja lalu menarikannya.

Seminggu kemudian, Rana kembali datang ke indekos Anjar. Gerimis turun waktu itu.

“Gimana hasilnya, Jar?” tanya Rana setelah membuka pintu dan sepenuhnya masuk kamar Anjar. Namun pertanyaannya langsung terjawab ketika matanya menumbuk tempat tidur Anjar. Ia berbinar. Segera ia berlari ke tempat tidur Anjar dan mengambil berlembar kertas sketsa yang sudah terisi. Lembar ini bergambar kucing, lembar itu bergambar taman, dan beberapa lembar lain yang bergambar wajah Eren. Semuanya memukau Rana. Rana benar-benar takjub.

Memang Anjar begitu berbakat dalam bidang sketsa. Gambar sketsanya halus. Kau lihat saja sendiri—jika kau tidak percaya—betapa lihai tangan Anjar menarikan pensilnya. Gradasi arsirannya lembut dan logis tertata, dan terasa begitu hidup. Berjiwa. Anjar sudah menyukai sketsa sejak tahun terakhir sekolah dasar. Waktu itu Anjar masih suka menggambar binatang dan sawah-sawah. Bisa dibilang, sketsa sudah menjadi bagian hidup Anjar. Rana sudah tak sabar dengan apa yang akan didapatkannya dari Anjar.

“Gimana, Jar?” ulang Rana melihat Anjar hening dengan pertanyaan sebelumnya.

“Menyenangkan ….”

Rana kembali berbinar mendapat jawaban Anjar. Syukurlah, batinnya.

“… awalnya. Awalnya saja. Lalu kembali hambar.” Lanjutan kalimat Anjar ini meredupkan binar yang terpampang di mata Rana.

Ia tidak mau bertanya mengapa. Kurang baik dalam kondisi seperti ini, tidak menghasilkan jawaban apa-apa, pikirnya. Rana mencoba mengayuh lebih keras pedal otaknya. Memikirkan apa yang bisa mengembalikan semangat Anjar, senyum manis Anjar.

“Puisi!” teriak Rana. “Bagaimana kalau kau tumpahkan ke puisi? Bukankah kau suka membuatnya, Jar?”

Anjar meneguk sekaleng soda sampai habis, lalu diam tidak menjawab.

“Baiklah, akan kutunggu hasilnya, Jar.” Rana meletakkan kembali gambar sketsa di tempat tidur Anjar. Ia enggan merapikannya dan menaruhnya di meja. Anjar akan tersinggung jika itu dilakukannya. Kemudian Rana pergi.

Anjar menggebrak meja belajarnya, lalu mengacak-acak rambutnya yang mulai memanjang. Pikirannya dipenuhi dengan Eren. Berjubel. Anjar merasakan kepalanya pusing. Lalu berkelebat memori saling berebut untuk mencuat keluar.

Anjar kelimpungan. Ia menoleh kanan-kiri, matanya tajam mencari seseorang dari hiruk pasar malam. Berkali-kali ia meneriakkan sebuah nama:

“Er? Eren?!” panggilnya sambil sesekali permisi kepada orang-orang yang ia lewati.

Anjar cemas. Ia kehilangan Eren ketika perhatiannya teralihkan oleh bianglala di ujung pasar malam. Ia ingin mengajak Eren ke sana. Namun ketika niatnya hendak ia realisasikan, Eren sudah tidak ada di sampingnya.

“Ereeen!” panggilnya lagi. Entah ini yang keberapa.

Anjar mulai cemas.

“Hei!” tepukan seorang bersuara perempuan itu mengagetkan Anjar.

“Eren …, kamu dari mana aja, sih? Nggak lucu tahu, nggak?” tanya Anjar dengan nada cemas pula.

Eren tersenyum melihat kecemasan Anjar. Ia mengerti kecemasan itu. “Kamu mau ngajak aku naik bianglala kan, Jar?” tanya Eren, “ yuk, ke sana!”

Anjar merasakan tangannya menghangat. Eren menggandengnya! Ini pertama kali Eren melakukannya. Cemas Anjar berganti senyum.

Aku adalah lilin

Sedang kau adalah sumbunya

Kita menyatu

“Aduh!” jerit Eren. Ia terjatuh oleh tali sepatunya yang terinjak sendiri.

Dengan sigap Anjar langsung menolong Eren. Mengusap dan membersihkan pasir yang menempel di tangan dan lutut Eren. Nggak pa-pa, katanya. Lalu Anjar merapikan tali sepatu Eren. Kemudian ia berdiri, menjujukan tangan ke arah Eren.

“Berdirilah, Putri,” canda Anjar sambil tersenyum.

Eren menyambut uluran tangan Anjar, “Terimakasih, Pangeran,” lalu mereka tertawa terbahak-bahak.

Aku adalah lilin
Sedang kau adalah sumbunya
Kita menyatu
Dan kita membara
Karena cinta

“Hayoo … tebak, siapa?”

Dengan tersenyum Anjar menarik sepasang tangan yang menutupi matanya dari belakang, “Eren, gimana bisa aku nggak hapal sama suara kamu?”

Eren tertawa. Lalu ia menggenggam tangan Anjar. “Udah siap buat ujian, kan?” tanyanya.

Anjar menunduk. “Enggg … belum si

“Udah siap, kan?” potong Eren seraya mengangkat dagu Anjar hingga matanya bisa bertumbukan dengan mata Anjar. Eren persembahkan tatapan teduh, tak lupa pun senyum manis.

Sudah pasti itu akan membuat Anjar tersenyum. Anjar lalu berdiri mantap, melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan kurang lima menit, lalu melangkah bersama Eren menuju kelas.

Aku adalah lilin
Sedang kau adalah sumbunya
Kita menyatu
Dan kita membara
Karena cinta
Denganmu
Aku terang

Tidak terlintas di pikiran Anjar, bahwa Eren akan datang ke indokesnya, sore itu, dengan menggunakan pakaian aneh dan muka dengan bedak belang-benteng seperti badut hanya untuk menghiburnya.

Eren selalu berhasil menghadirkan tawa di wajah Anjar, bahkan ketika Anjar sedang dirundung kebimbangan yang sangat. Sore itu menjadi sore yang lebih cantik dari biasanya. Tawa Anjar lepas. Dan seketika Anjar lupa dengan masalahnya.

Aku adalah lilin
Sedang kau adalah sumbunya
Kita menyatu
Dan kita membara
Karena cinta
Denganmu
Aku terang
Gelap yang mengapa ada
Tak lagi jadi apa-apa

“Aku …. Aku dijodohkan dengan anak rekan kerja Ayah, Jar.” Sial! Anjar mengumpat sejadinya. Sekali lagi digebraknya meja dengan keras. Ia begitu kesal. Tentu saja. Dari sekian banyak memori, ia malah teringat dengan yang satu itu. Ia benci mengingatnya. Baiklah, selesaikan satu puisi ini. Bukankah ia harus melampiaskannya? Kali saja dengan jalan ini, bebannya berkurang.

Aku adalah lilin
Sedang kau adalah sumbunya
Kita menyatu
Dan kita membara
Karena cinta
Denganmu
Aku terang
Gelap yang mengapa ada
Tak lagi jadi apa-apa
Hingga kau putuskan untuk pergi
Api mati
Aku sendiri
Koyak
Luluh lantak
Aku sendiri dalam gelap

Cukup sampai di situ. Anjar menggenggam penanya erat, meremasnya kuat-kuat. Ia rasakan angin masuk ke dalam hidungnya dalam-dalam. Menenangkan gemuruh di dadanya. Lalu ia mengambil kertas kosong.

~***~

Malam sudah berhasil menggeser kedudukan senja. Kini langit mulai menghitam, menggantikan rona kuning keemasan. Burung-burung sudah kembali ke sarangnya. Angin dingin memulai perjalanannya.

Rana masih diam. Gundah. Tangannya memegang lembaran-lembaran kertas dengan resah. Ia bingung harus dengan cara apa lagi agar bisa membuat Anjar tersenyum. Dibolak-baliknya lembaran itu lagi. Puisi-puisi Anjar begitu bagus baginya. Menyentuh. Namun nyatanya itu tidak meringankan beban Anjar. Anjar masih saja bermuka masam.

Rana berpikir keras. Ia tidak peduli jika perutnya sedang meminta jatah. Begitu pun Anjar. Lihatlah, ia sampai tidak nafsu makan seperti itu.

Satu jam berlalu dengan hening. Pikiran Rana buntu. Untuk kedua kalinya, Rana akhirnya pergi tanpa bisa memberikan jalan keluar bagi Anjar yang tersepi di hutan bimbang. Sebelum hilang di balik pintu, Rana berjanji akan kembali lagi besok.

Sedang Anjar beranjak malas ke meja, mengambil obat tidur. Bagaimana lagi? Tidur adalah cara terjitu untuk menahan rasa penat sejenak. Dan karena masalah ini, Anjar sulit tidur. Maka terpaksa ia meminum obat itu, padahal sebelumnya ia tak pernah melakukannya.

Seperti yang dijanjikan, esoknya Rana kembali ke indekosnya Anjar. Namun Anjar tidak ada di kamar. Rana mencari di kamar sebelah pun tidak ada. Setelah beberapa saat mencari, didapatinya Anjar sedang berada di halaman belakang indekos dengan peluh di sekujur tubuhnya, juga sekop di tangannya.

Melihat Rana, Anjar hanya terdiam, menatap kosong, lalu kembali menggaruk gundukan tanah dengan sekop, lalu menjatuhkannya ke lubang di depannya.

Perasaan Rana tidak enak. Ia pun langsung mendekati Anjar. “Jar, apa yang kau lakukan?” tanya Rana dengan nada agak tinggi ketika sudah di samping Anjar dan melihat ke dalam kubangan. “Apa yang kau pikirkan? Kau pikir dengan ....

“Diamlah,” potong Anjar, ia membersut. Rana langsung terdiam.

Tidak terkata sedikit pun di pikiran Rana bahwa Anjar akan melakukan ini, mengubur semua barang-barang yang diberi oleh Eren, pun sketsa-sketsa dan puisi yang kemarin Anjar buat. Rana bingung. Bukankah Anjar membuatnya—meskipun pelampiasan—dengan sepenuh hati? Rana tidak mengira bahwa Anjar akan mengubur semua barang itu, semua kenangannya.

Hujan tiba-tiba datang tanpa diminta. Rana beringsut ke bawah kantilever untuk berteduh, sedang Anjar masih berdiri di bawah hujan. Memandangi gundukan tanah bekas ia mengubur semua barang-barang yang berhubungan dengan Eren. Rana memanggil-manggil Anjar untuk segera berteduh, namun Anjar bergeming. Diam. Dan Rana hanya bisa melihat punggung Anjar yang basah dengan silu.

“Apa itu, Jar?”

“Ah, ini adalah lambang setia.”

“Apa yang bisa dilambangkan setia dari kayu yang bentuknya entah itu?”

“Ini patung surealis, Rana. Tidakkah kau lihat lengkungan di sini berbentuk tangan? Dan mereka saling menggenggam?”

Rana memperhatikannya sejenak, “Kau benar,” tangannya terulur untuk menyentuh yang saling menggenggam itu. “Bagus. Ini, dalam sekali. Aku baru menyadarinya.”

“Nah!”

“Dari mana kau mendapatkannya, Jar?”

“Eren.”

“Eren?”

“Ya, kamu tidak percaya, bukan? Sama. Tapi memang Eren lah yang membuatnya.” Senyum perlahan merekah, membersil di wajah.

Ikut pula Rana tersenyum. Entah mengapa—jangan kautanya, ia juga tidak mengerti—Rana begitu senang melihat senyum Anjar. Ada kekuatan magis di sana yang menyeretnya untuk ikut bahagia.

Cipratan air hujan karena lompatan kodok riang membuyarkan lamunan Rana. Dilihatnya Anjar masih berdiri di sana. Dan mereka akhirnya berdiam-diam hingga hujan reda.

~***~

Lihatlah betapa kumalnya ia sekarang. Rambut berantakan, janggutnya yang malas dicukur, bahkan ia belum ganti baju tiga hari ini. Padahal dulu ia begitu rajin memperhatikan penampilan, tentu saja untuk kekasihnya.

 Dengan genit sinar matahari sore menyelundup lewat pundak jendela dan mencubit kaki Anjar. Ia merasa terganggu. Dengan kelopak mata yang masih saling melekat, ia tarik selimut cepat, kemudian menutupi mukanya dengan bantal.

Baru dua menit, sekarang berganti suara ketukan pintu yang mengganggu Anjar. Ia mengerang. Menguap. Kembali tidur. Lalu ketukan yang berkali-kali dengan terpaksa membuat Anjar benar-benar bangun dari tempat tidur, menyeret kaki ke pintu, kemudian membuka kuncinya. Ada Rana di baliknya.

“Kamu tahu? Kamu mengganggu waktu istirahatku,” ujar Anjar.

“Istirahat dari apa? Hidup?” Rana mencoba bercanda.

“Diamlah!” Namun sepertinya Anjar sedang tidak bisa bercanda. Tentu saja.

“Aku tahu kau butuh apa.”

“Bukankah kamu tahu, semuanya percuma? Semua usul yang kamu berikan sudah kucoba, namun semuanya telah meniada, percuma.”

“Dengarlah! Aku yakin kali ini.” Dan memang sekarang Rana sedang memajang raut serius.

“Apa lagi?”

“Aku dengar perjodohan Eren dibatalkan.”

“Aku sudah tahu, namun kamu juga tahu bahwa hampa telah meraja. Lalu apa?”

Rana diam. Menarik napas dalam. Menatap Anjar tajam.

“Kau butuh jatuh cinta, Jar, atau patah hati. Dan kau pasti tahu mana yang bijak untukmu.”

Sekarang Anjar yang diam. Tergemap. Menatap Rana lekat.

Duh! Kali ini Anjar merasa dirinya begitu pusung. Ia mengerdip, ia sadar betapa ia baru tersadar. Pemuda itu menyenyumi kebodohannya. Lalu menertawainya, agak lama.

“Kamu benar,” tersenyum lagi ia, “ya, kamu benar, Rana.” Kini senyummya penuh semangat. Bergegaslah Anjar ke belakang indekosnya. Rana mengikutinya dari belakang.

Anjar mencari sesuatu di atas tanah pekarangan belakang indekosnya. Ia kini terlihat bersinar—sambil sesekali mengepal-bukakan kedua telapak tangan—di bawah langit yang semakin muram setelah menemukan yang ia cari. Sebuah gundukan. Pancaran matanya menyaingi kecantikan senja di ujung sana.

Ia pandangi gundukan itu. Bisa kau lihat senyumnya lebar sekali. Sesekali matanya beralih ke langit, lalu ke Rana, dengan penuh semringah.

Dada Rana berdag, dig, dan dug melihat rona Anjar. Setitik air bertengger di ujung bingkai matanya. Bukankah memang begitulah cinta? Rana tidak bisa untuk tidak bahagia ketika Anjar ceria, pun tidak bisa untuk tidak bersedih ketika Anjar sedang merasa perih. Namun kini Rana sedang tulus berbahagia. Maka, Rana tersenyum ke arah Anjar.

Sedang di satu meter di depan Rana, Anjar terlihat brutal mengais-ngais gundukan tanah di depannya dengan tangannya. Ia semangat mengais kenangan.



Semarang-Wonosobo, 15 Mei-12 Juni 2015.


12 komentar:

  1. Udah bacaa....

    Btw, ini cerpen apa gak kepanjagan ya? Aku sedikit jenuh bacanya #plak! XD

    Lumayan ngalir, ada bbrp diksi baru yang aku catat *buat dipake di tulisanku nanti :D

    Terus ada typo, setauku yang benar itu 'rapi' bukan 'rapih'.

    Ada satu kata yang aku gak tau artinya. Silu itu apa ya?

    Emnn... apalagi ya?
    Oia, aku suka narasi ini, "sepiring kebahagian yang tadinya akan tumpah bla bla blaa.... *gak bisa dicopas* suka banget.

    Tapi ya itu, aku agak bosen karena kepanjangan :v

    Gitu aja. Semangat, Fakh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak menurut saya. Karena nggak ada batas pasti buat panjang cerpen. Bahkan ada cerpen yang panjangnya tiga kali lipat dari cerpen saya.

      Silakan dipake~

      Iya, harusnya rapi. Typho.

      silu/si·lu/ a 1 pilu; rayu; rawan hati

      Ahaha. Saya juga suka narasi itu. Oke, makasih KakCil.

      Hapus
  2. Kalimat d paragraf awal, stelah dialog, itu kepanjangan deh kayanya. Aku engap bacanya fakh.

    Ini cerpen panjang amit yak. Haha. Agak capek bacanya. Tp kseluruhan bagus kok. Narasinya keren. Dan aku paling suka sama puisinya. Beuh.... bikinin aku puisi satulah. Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyiehehehehe. Sengaja, Kak. XD

      Iya, lagi nyoba bikin cerpen panjan Kak.

      Sini ke Semarang dulu Kak, baru saya bikinin. Wkwk.

      Hapus
  3. Mau komen kepanjangan cerpenya tidak jadi aja ah, sudah dua orng yg komentar gitu :D kak fakhri, cerpenmu bagus. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha. Iya. Makasih, Nofi, udah mau baca. :)

      Hapus
  4. Hai...Om Sendal!
    Aku suka cara kamu membuka cerita
    Cara berceritanya juga cukup enak!

    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Kak Peramal!
      Woah, makasih Kak udah mau baca. XD

      Hapus