“Kau
butuh pelampiasan, Jar.”
Anjar masih setia duduk diam di daun
jendela kamar. Seperti biasa. Menunggu sore menuju senja. Padahal ini masih jam
tiga. Burung betina saja masih
keluyuran mencari makan untuk dibawakan ke anaknya yang masih tidur pulas di
sangkarnya di atas pohon nangka yang berjarak satu setengah meter di samping
jendela kamar Anjar. Masih lama.
“Jar?” panggil Rana dengan nada lebih
tinggi daripada sebelumnya.
“Eh, ya?” Anjar menoleh ke arah Rana.
“Kau butuh pelampiasan.”
“Menurutmu begitu?”
“Ya, menurutku begitu.”
Anjar kembali memandang jauh ke barat.
“Seperti?”
“Kau suka melukis, kan?”
“Lalu?”
Rana mengambil buku berukuran A3 di
meja belajar Anjar, menimang-nimangnya, lalu menyodorkannya. “Ini, lampiaskan
di buku sketsa ini,” ucapnya, “tumpahkan yang kau rasakan sekarang di sini.
Mungkin itu akan sedikit meringankan bebanmu.”
Anjar hanya bergeming. Lama.
~***~
Sekarang ia tidak mempunyai semangat
barang secuil pun. Semuanya terasa hambar.
Sayup-sayup semburat matahari yang
mulai digulingkan bulan menelusup masuk lewat celah jendela, melewati onggokan
remasan kertas yang berserakan, menyenggol sampah bekas minuman-minuman kaleng
dan makanan ringan, lalu merambat di seprai yang berantakan, hingga akhirnya
berhasil menyentuh kulitnya. Ia lalu menarik selimutnya untuk menutupi kakinya
yang terkena sinar senja.
Lihatlah betapa kumalnya ia sekarang. Rambut
berantakan, janggutnya yang malas dicukur, bahkan ia belum ganti baju tiga hari
ini. Padahal dulu ia begitu rajin memerhatikan penampilan, tentu saja untuk
kekasihnya.
Lihatlah tumpukan kertas-kertas tak
beraturan bentuknya yang tergelepar di lantai, juga sampah makanan, sejak
seminggu lalu itu. Dulu kamar ini begitu rapih. Ia rajin merapikannya, tentu
saja untuk menyambut kekasihnya yang bisa datang kapan saja itu.
Ternyata memang benar, patah hati bisa
membuat seseorang seolah mati. Tidak bergairah sama sekali. Hampa. Begitu yang
dirasakan Anjar saat ini. Bukan saat ini, berhari-hari! Sejak kejadian lima
bulan lalu di persimpangan jalan dekat kampus seusai wisuda.
Siang itu Anjar sedang melangkah girang
ke tempat yang ia janjikan dengan Eren, sang kekasih. Gerak tawa ekspresif
tanpa suara jelas terbit di wajahnya. Dan senyum itu semakin lebar tatkala Eren
sudah terlihat di ujung persimpangan. Terbesit di pikiran Anjar, Eren akan
melonjak bahagia dan memeluknya saat tahu bahwa hubungan mereka baru saja
direstui sang ibu. Maka ia percepat langkahnya. Ia berlari. Ia biarkan toganya
yang jatuh. Setibanya di depan Eren,
“Er, aku mau ngo ….”
“Sepasang kaos kaki udah hilang
sebelah, Jar,” potong Eren cepat. Matanya sedu. Kontras dengan siang yang
terik.
Anjar seketika diam. Badannya bergetar.
Ia mengerti raut muka itu. Ia paham benar apa yang diucapkan Eren. Lalu apakah
cuma sampai di sini? Untuk apa pula semua perjuangannya? Bahkan baru saja ….
Ah, Anjar.
Ia memilih bungkam. Menunggu penjelasan
keluar dari mulut Eren. Sedang Eren mulai terisak. Setelah itu cukup lama
mereka bersunyi-sunyi.
Burung Gereja terbang rendah kemudian mendarat
di antara Anjar dan Eren. Mencari kerikil kecil. Lalu ketika melihat mereka,
seolah mengerti, burung itu memilih terbang kembali, mencari tempat lain.
“Maafkan aku, Jar.” Masih tidak ada
suara lain selain isak Eren. “Aku dijodohkan dengan anak dari rekan kerja Ayah,”
lanjutnya.
Anjar merasakan badannya semakin
gemetar ketika mendengar penjelasan yang ditunggu. Mata memanas. Otak terasa
mendidih. Lutut kaki melemah. Mendung di wajahnya makin pekat. Setetes air
jatuh dari sudut mata. Sepiring bahagia yang tadinya ingin tumpah malah pecah,
menjadi beling yang menyayat setiap rongga hatinya.
Sakit. Tentu saja. Sudah lama Anjar dan
Eren mengaduk adonan kasih, sudah hampir matang, malah jatuh begitu saja.
Setelah itu Anjar menghabiskan waktunya
untuk merenung, bergalau. Tidak ada semangat untuk mencari kerja. Hidupnya
dilalui dengan hanya memandangi senja lewat jendela kamarnya. Hingga
sahabatnya, Rana, menelepon
Anjar untuk menanyakan kabar. Sudah sebulan Anjar mengurung diri.
Anjar meminta Rana untuk datang ke indekosnya.
Lalu Anjar ceritakan semuanya. Ia menangis. Sampai-sampai Rana bingung harus
berkata apa. Baru kali ini Anjar menangis. Rana mengenal Anjar sebagai sahabat
yang selalu ceria, selalu semangat dalam mengejar apa saja yang ia suka, dan
Anjar selalu mendapatkannya. Namun, sekarang melihat senyum khas Anjar saja
bagai punuk merindukan bulan purnama. Sampai-sampai Rana terus diam hingga
pulang. Rana hanya bisa menepuk pundak Anjar, dan itu tidak mengurangi sedikit
pun kegalauan Anjar.
~***~
Rana tidak bisa diam. Ia mondar-mandir
di kamarnya. Pikirannya dipenuhi dengan Anjar. Bahkan Rana belum sarapan, pun
tidak berangkat kerja hari ini.
Ia bingung, bimbang. Bingung apa yang
harus dilakukannya untuk menenangkan Anjar. Bimbang harus bersedih atau
berbahagia atas apa yang menimpa sahabat sejak sekolah menengah pertamanya itu.
Di satu sisi ia sangat sedih melihat Anjar bersedih, sedih tidak bisa menemukan
senyum di bibir Anjar seperti biasanya. Di sisi lain ia tidak bisa memungkiri,
ia bahagia atas putusnya hubungan Anjar dan Eren.
Ya, tebakanmu benar.
Sudah lama Rana menyukai Anjar. Tidak
lama setelah mereka mengikrarkan persahabatan mereka. Namun Rana terlalu malu
untuk mengungkapkannya. Jangankan mengungkapkan, memberi kode seperti yang
biasa kita lakukan pun ia malu. Maka ia lebih memilih untuk mencintai dalam
diam.
Rana teringat sesuatu. Ia beranjak
menuju meja belajarnya. Membuka laci, lalu mengambil sebuah foto. Lama ia
pandangi foto itu hingga akhirnya sudut-sudut bibirnya terangkat. Ia telah
memutuskan sesuatu.
~***~
Anjar menoleh ke arah buku sketsa
setelah Rana menghilang di
balik pintu dan bunyi pintu tertutup terdengar. Ia beranjak dari jendela
dan mengambilnya. Menimang-nimangnya seperti yang Rana lakukan. Hingga akhirnya
ia memutuskan untuk mengambil beberapa pensil di meja lalu menarikannya.
Seminggu kemudian, Rana kembali datang
ke indekos Anjar. Gerimis turun waktu itu.
“Gimana hasilnya, Jar?” tanya Rana
setelah membuka pintu dan sepenuhnya masuk kamar Anjar. Namun pertanyaannya
langsung terjawab ketika matanya menumbuk tempat tidur Anjar. Ia berbinar.
Segera ia berlari ke tempat tidur Anjar dan mengambil berlembar kertas sketsa
yang sudah terisi. Lembar ini bergambar kucing, lembar itu bergambar taman, dan
beberapa lembar lain yang bergambar wajah Eren. Semuanya memukau Rana. Rana
benar-benar takjub.
Memang Anjar begitu berbakat dalam
bidang sketsa. Gambar sketsanya halus. Kau lihat saja sendiri—jika kau tidak
percaya—betapa lihai tangan Anjar menarikan pensilnya. Gradasi arsirannya
lembut dan logis tertata, dan terasa begitu hidup. Berjiwa. Anjar sudah
menyukai sketsa sejak tahun terakhir sekolah dasar. Waktu itu Anjar masih suka
menggambar binatang dan sawah-sawah. Bisa dibilang, sketsa sudah menjadi bagian
hidup Anjar. Rana sudah tak sabar dengan apa yang akan didapatkannya dari
Anjar.
“Gimana, Jar?” ulang Rana melihat Anjar
hening dengan pertanyaan sebelumnya.
“Menyenangkan ….”
Rana kembali berbinar mendapat jawaban
Anjar. Syukurlah, batinnya.
“… awalnya. Awalnya saja. Lalu kembali
hambar.” Lanjutan kalimat Anjar ini meredupkan binar yang terpampang di mata Rana.
Ia tidak mau bertanya mengapa. Kurang
baik dalam kondisi seperti ini, tidak menghasilkan jawaban apa-apa, pikirnya.
Rana mencoba mengayuh lebih keras pedal otaknya. Memikirkan apa yang bisa
mengembalikan semangat Anjar, senyum manis Anjar.
“Puisi!” teriak Rana. “Bagaimana kalau
kau tumpahkan ke puisi? Bukankah kau suka membuatnya, Jar?”
Anjar meneguk sekaleng soda sampai
habis, lalu diam tidak menjawab.
“Baiklah, akan kutunggu hasilnya, Jar.”
Rana meletakkan kembali gambar sketsa di tempat tidur Anjar. Ia enggan merapikannya
dan menaruhnya di meja. Anjar akan tersinggung jika itu dilakukannya. Kemudian
Rana pergi.
Anjar menggebrak meja belajarnya, lalu
mengacak-acak rambutnya yang mulai memanjang. Pikirannya dipenuhi dengan Eren.
Berjubel. Anjar merasakan kepalanya pusing. Lalu berkelebat memori saling
berebut untuk mencuat keluar.
Anjar kelimpungan. Ia menoleh
kanan-kiri, matanya tajam mencari seseorang dari hiruk pasar malam.
Berkali-kali ia meneriakkan sebuah nama:
“Er? Eren?!” panggilnya sambil sesekali
permisi kepada orang-orang yang ia lewati.
Anjar cemas. Ia kehilangan Eren ketika
perhatiannya teralihkan oleh bianglala di ujung pasar malam. Ia ingin mengajak
Eren ke sana. Namun ketika niatnya hendak ia realisasikan, Eren sudah tidak ada
di sampingnya.
“Ereeen!” panggilnya lagi. Entah ini
yang keberapa.
Anjar mulai cemas.
“Hei!” tepukan seorang bersuara
perempuan itu mengagetkan Anjar.
“Eren …, kamu dari mana aja, sih? Nggak
lucu tahu, nggak?” tanya Anjar dengan nada cemas pula.
Eren tersenyum melihat kecemasan Anjar.
Ia mengerti kecemasan itu. “Kamu mau ngajak aku naik bianglala kan, Jar?” tanya
Eren, “ yuk, ke sana!”
Anjar merasakan tangannya menghangat.
Eren menggandengnya! Ini pertama kali Eren melakukannya. Cemas Anjar berganti
senyum.
Aku
adalah lilin
Sedang
kau adalah sumbunya
Kita
menyatu
“Aduh!” jerit Eren. Ia terjatuh oleh
tali sepatunya yang terinjak sendiri.
Dengan sigap Anjar langsung menolong
Eren. Mengusap dan membersihkan pasir yang menempel di tangan dan lutut Eren.
Nggak pa-pa, katanya. Lalu Anjar merapikan tali sepatu Eren. Kemudian ia
berdiri, menjujukan tangan ke arah Eren.
“Berdirilah, Putri,” canda Anjar sambil
tersenyum.
Eren menyambut uluran tangan Anjar,
“Terimakasih, Pangeran,” lalu mereka tertawa terbahak-bahak.
Aku
adalah lilin
Sedang
kau adalah sumbunya
Kita
menyatu
Dan
kita membara
Karena
cinta
“Hayoo … tebak, siapa?”
Dengan tersenyum Anjar menarik sepasang
tangan yang menutupi matanya dari belakang, “Eren, gimana bisa aku nggak hapal
sama suara kamu?”
Eren tertawa. Lalu ia menggenggam
tangan Anjar. “Udah siap buat ujian, kan?” tanyanya.
Anjar menunduk. “Enggg … belum si— ”
“Udah siap, kan?” potong Eren seraya
mengangkat dagu Anjar hingga matanya bisa bertumbukan dengan mata Anjar. Eren
persembahkan tatapan teduh, tak lupa pun senyum manis.
Sudah pasti itu akan membuat Anjar
tersenyum. Anjar lalu berdiri mantap, melihat jam tangannya yang sudah
menunjukkan pukul delapan kurang lima menit, lalu melangkah bersama Eren menuju
kelas.
Aku
adalah lilin
Sedang
kau adalah sumbunya
Kita
menyatu
Dan
kita membara
Karena
cinta
Denganmu
Aku
terang
Tidak terlintas di pikiran Anjar, bahwa
Eren akan datang ke indokesnya, sore itu, dengan menggunakan pakaian aneh dan
muka dengan bedak belang-benteng seperti badut hanya untuk menghiburnya.
Eren selalu berhasil menghadirkan tawa
di wajah Anjar, bahkan ketika Anjar sedang dirundung kebimbangan yang sangat.
Sore itu menjadi sore yang lebih cantik dari biasanya. Tawa Anjar lepas. Dan
seketika Anjar lupa dengan masalahnya.
Aku
adalah lilin
Sedang
kau adalah sumbunya
Kita
menyatu
Dan
kita membara
Karena
cinta
Denganmu
Aku
terang
Gelap
yang mengapa ada
Tak
lagi jadi apa-apa
“Aku …. Aku dijodohkan dengan anak
rekan kerja Ayah, Jar.” Sial! Anjar mengumpat sejadinya. Sekali lagi
digebraknya meja dengan keras. Ia begitu kesal. Tentu saja. Dari sekian banyak
memori, ia malah teringat dengan yang satu itu. Ia benci mengingatnya. Baiklah,
selesaikan satu puisi ini. Bukankah ia harus melampiaskannya? Kali saja dengan
jalan ini, bebannya berkurang.
Aku
adalah lilin
Sedang
kau adalah sumbunya
Kita
menyatu
Dan
kita membara
Karena
cinta
Denganmu
Aku
terang
Gelap
yang mengapa ada
Tak
lagi jadi apa-apa
Hingga
kau putuskan untuk pergi
Api
mati
Aku
sendiri
Koyak
Luluh
lantak
Aku
sendiri dalam gelap
Cukup sampai di situ. Anjar menggenggam
penanya erat, meremasnya kuat-kuat. Ia rasakan angin masuk ke dalam hidungnya
dalam-dalam. Menenangkan gemuruh di dadanya. Lalu ia mengambil kertas kosong.
~***~
Malam sudah berhasil menggeser
kedudukan senja. Kini langit mulai menghitam, menggantikan rona kuning
keemasan. Burung-burung sudah kembali ke sarangnya. Angin dingin memulai
perjalanannya.
Rana masih diam. Gundah. Tangannya
memegang lembaran-lembaran kertas dengan resah. Ia bingung harus dengan cara
apa lagi agar bisa membuat Anjar tersenyum. Dibolak-baliknya lembaran itu lagi.
Puisi-puisi Anjar begitu bagus baginya. Menyentuh. Namun nyatanya itu tidak
meringankan beban Anjar. Anjar masih saja bermuka masam.
Rana berpikir keras. Ia tidak peduli
jika perutnya sedang meminta jatah. Begitu pun Anjar. Lihatlah, ia sampai tidak
nafsu makan seperti itu.
Satu jam berlalu dengan hening. Pikiran
Rana buntu. Untuk kedua kalinya, Rana akhirnya pergi tanpa bisa memberikan
jalan keluar bagi Anjar yang tersepi di hutan bimbang. Sebelum hilang di balik
pintu, Rana berjanji akan kembali lagi besok.
Sedang Anjar beranjak malas ke meja,
mengambil obat tidur. Bagaimana lagi? Tidur adalah cara terjitu untuk menahan
rasa penat sejenak. Dan karena masalah ini, Anjar sulit tidur. Maka terpaksa ia
meminum obat itu, padahal sebelumnya ia tak pernah melakukannya.
Seperti yang dijanjikan, esoknya Rana
kembali ke indekosnya Anjar. Namun Anjar tidak ada di kamar. Rana mencari di
kamar sebelah pun tidak ada. Setelah beberapa saat mencari, didapatinya Anjar
sedang berada di halaman belakang indekos dengan peluh di sekujur tubuhnya,
juga sekop di tangannya.
Melihat Rana, Anjar hanya terdiam,
menatap kosong, lalu kembali menggaruk gundukan tanah dengan sekop, lalu
menjatuhkannya ke lubang di depannya.
Perasaan Rana tidak enak. Ia pun
langsung mendekati Anjar. “Jar, apa yang kau lakukan?” tanya Rana dengan nada
agak tinggi ketika sudah di samping Anjar dan melihat ke dalam kubangan. “Apa
yang kau pikirkan? Kau pikir dengan .... ”
“Diamlah,” potong Anjar, ia membersut.
Rana langsung terdiam.
Tidak terkata sedikit pun di pikiran
Rana bahwa Anjar akan melakukan ini, mengubur semua barang-barang yang diberi
oleh Eren, pun sketsa-sketsa dan puisi yang kemarin Anjar buat. Rana bingung.
Bukankah Anjar membuatnya—meskipun pelampiasan—dengan sepenuh hati? Rana tidak
mengira bahwa Anjar akan mengubur semua barang itu, semua kenangannya.
Hujan tiba-tiba datang tanpa diminta. Rana
beringsut ke bawah kantilever untuk berteduh, sedang Anjar masih berdiri di
bawah hujan. Memandangi gundukan tanah bekas ia mengubur semua barang-barang
yang berhubungan dengan Eren. Rana memanggil-manggil Anjar untuk segera
berteduh, namun Anjar bergeming. Diam. Dan Rana hanya bisa melihat punggung
Anjar yang basah dengan silu.
“Apa itu, Jar?”
“Ah, ini adalah lambang setia.”
“Apa yang bisa dilambangkan setia dari
kayu yang bentuknya entah itu?”
“Ini patung surealis, Rana. Tidakkah
kau lihat lengkungan di sini berbentuk tangan? Dan mereka saling menggenggam?”
Rana memperhatikannya sejenak, “Kau
benar,” tangannya terulur untuk menyentuh yang saling menggenggam itu. “Bagus.
Ini, dalam sekali. Aku baru menyadarinya.”
“Nah!”
“Dari mana kau mendapatkannya, Jar?”
“Eren.”
“Eren?”
“Ya, kamu tidak percaya, bukan? Sama.
Tapi memang Eren lah yang membuatnya.” Senyum perlahan merekah, membersil di
wajah.
Ikut pula Rana tersenyum. Entah mengapa—jangan kautanya, ia juga tidak
mengerti—Rana begitu senang melihat senyum Anjar. Ada kekuatan magis di sana
yang menyeretnya untuk ikut bahagia.
Cipratan air hujan karena lompatan
kodok riang membuyarkan lamunan Rana. Dilihatnya Anjar masih berdiri di sana.
Dan mereka akhirnya berdiam-diam hingga hujan reda.
~***~
Lihatlah betapa kumalnya ia sekarang.
Rambut berantakan, janggutnya yang malas dicukur, bahkan ia belum ganti baju
tiga hari ini. Padahal dulu ia begitu rajin memperhatikan penampilan, tentu
saja untuk kekasihnya.
Dengan genit sinar matahari sore
menyelundup lewat pundak jendela dan mencubit kaki Anjar. Ia merasa terganggu.
Dengan kelopak mata yang masih saling melekat, ia tarik selimut cepat, kemudian
menutupi mukanya dengan bantal.
Baru dua menit, sekarang berganti suara ketukan pintu yang mengganggu
Anjar. Ia mengerang. Menguap. Kembali tidur. Lalu ketukan yang berkali-kali
dengan terpaksa membuat Anjar benar-benar bangun dari tempat tidur, menyeret
kaki ke pintu, kemudian membuka kuncinya. Ada Rana di baliknya.
“Kamu tahu? Kamu mengganggu waktu istirahatku,” ujar Anjar.
“Istirahat dari apa? Hidup?” Rana mencoba bercanda.
“Diamlah!” Namun sepertinya Anjar sedang tidak bisa bercanda. Tentu
saja.
“Aku tahu kau butuh apa.”
“Bukankah kamu tahu, semuanya percuma? Semua usul yang kamu berikan
sudah kucoba, namun semuanya telah meniada, percuma.”
“Dengarlah! Aku yakin kali ini.” Dan memang sekarang Rana sedang
memajang raut serius.
“Apa lagi?”
“Aku dengar perjodohan Eren dibatalkan.”
“Aku sudah tahu, namun kamu juga tahu bahwa hampa telah meraja. Lalu
apa?”
Rana diam. Menarik napas dalam. Menatap Anjar tajam.
“Kau butuh jatuh cinta, Jar, atau patah hati. Dan kau pasti tahu mana
yang bijak untukmu.”
Sekarang Anjar yang diam. Tergemap. Menatap Rana lekat.
Duh! Kali ini Anjar merasa dirinya begitu pusung. Ia mengerdip, ia sadar
betapa ia baru tersadar. Pemuda itu menyenyumi kebodohannya. Lalu
menertawainya, agak lama.
“Kamu benar,” tersenyum lagi ia, “ya, kamu benar, Rana.” Kini senyummya
penuh semangat. Bergegaslah Anjar ke belakang indekosnya. Rana mengikutinya
dari belakang.
Anjar mencari sesuatu di atas tanah pekarangan belakang indekosnya. Ia kini
terlihat bersinar—sambil sesekali mengepal-bukakan kedua telapak tangan—di
bawah langit yang semakin muram setelah menemukan yang ia cari. Sebuah
gundukan. Pancaran matanya menyaingi kecantikan senja di ujung sana.
Ia pandangi gundukan itu. Bisa kau lihat senyumnya lebar sekali.
Sesekali matanya beralih ke langit, lalu ke Rana, dengan penuh semringah.
Dada Rana berdag, dig, dan dug melihat rona Anjar. Setitik air
bertengger di ujung bingkai matanya. Bukankah memang begitulah cinta? Rana
tidak bisa untuk tidak bahagia ketika Anjar ceria, pun tidak bisa untuk tidak
bersedih ketika Anjar sedang merasa perih. Namun kini Rana sedang tulus berbahagia.
Maka, Rana tersenyum ke arah Anjar.
Sedang di satu meter di depan Rana, Anjar terlihat brutal mengais-ngais
gundukan tanah di depannya dengan tangannya. Ia semangat mengais kenangan.
Semarang-Wonosobo, 15 Mei-12 Juni 2015.






Udah bacaa....
BalasHapusBtw, ini cerpen apa gak kepanjagan ya? Aku sedikit jenuh bacanya #plak! XD
Lumayan ngalir, ada bbrp diksi baru yang aku catat *buat dipake di tulisanku nanti :D
Terus ada typo, setauku yang benar itu 'rapi' bukan 'rapih'.
Ada satu kata yang aku gak tau artinya. Silu itu apa ya?
Emnn... apalagi ya?
Oia, aku suka narasi ini, "sepiring kebahagian yang tadinya akan tumpah bla bla blaa.... *gak bisa dicopas* suka banget.
Tapi ya itu, aku agak bosen karena kepanjangan :v
Gitu aja. Semangat, Fakh!
Nggak menurut saya. Karena nggak ada batas pasti buat panjang cerpen. Bahkan ada cerpen yang panjangnya tiga kali lipat dari cerpen saya.
HapusSilakan dipake~
Iya, harusnya rapi. Typho.
silu/si·lu/ a 1 pilu; rayu; rawan hati
Ahaha. Saya juga suka narasi itu. Oke, makasih KakCil.
Kalimat d paragraf awal, stelah dialog, itu kepanjangan deh kayanya. Aku engap bacanya fakh.
BalasHapusIni cerpen panjang amit yak. Haha. Agak capek bacanya. Tp kseluruhan bagus kok. Narasinya keren. Dan aku paling suka sama puisinya. Beuh.... bikinin aku puisi satulah. Hihi
Nyiehehehehe. Sengaja, Kak. XD
HapusIya, lagi nyoba bikin cerpen panjan Kak.
Sini ke Semarang dulu Kak, baru saya bikinin. Wkwk.
Mau komen kepanjangan cerpenya tidak jadi aja ah, sudah dua orng yg komentar gitu :D kak fakhri, cerpenmu bagus. :)
BalasHapusAhahaha. Iya. Makasih, Nofi, udah mau baca. :)
Hapustoo long ri, mboseni kwkwk
BalasHapusOke. Makasih, Sept, mau baca. :)
Hapusjo ri, fakhri
BalasHapusJo apaan, Wan? :o
HapusHai...Om Sendal!
BalasHapusAku suka cara kamu membuka cerita
Cara berceritanya juga cukup enak!
:D
Hai Kak Peramal!
HapusWoah, makasih Kak udah mau baca. XD